KUKAR : Pembukaan roadshow pelatihan kewirausahaan daur ulang sampah, sebagai media pembelajaran sederhana bagi guru dan murid SMA se-Kutai Kartanegara (Kukar) digelar dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional 2026 bertepat di SMA Negeri 2 Tenggarong, Kamis (12/2/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan pendidikan kewirausahaan berbasis lingkungan di Kalimantan Timur, yang diinisiasi Dinas Pendidikan Provinsi Kaltim Cabang Dinas Wilayah III bersama Event Organizer (EO) Sinar Intan Kabupaten Kukar, sebagai upaya menanamkan jiwa wirausaha sekaligus kepedulian lingkungan sejak dini.
Puluhan siswa dan guru yang mengikuti kegiatan tersebut dibekali keterampilan mengolah limbah plastik, kardus, dan bahan bekas lainnya menjadi produk kerajinan bernilai guna dan bernilai jual.
CEO EO Sinar Intan, Henny Amiroeddin, menyampaikan Pelatihan ini sekaligus menjadi ruang implementasi pembelajaran kewirausahaan yang telah masuk dalam kurikulum sekolah. Melalui praktik langsung, siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga melihat peluang ekonomi dari pengelolaan sampah.
“Workshop ini kami arahkan sebagai bagian dari pembentukan ekosistem ekonomi sirkular di sekolah, di mana sampah diolah, dimanfaatkan, dan bernilai ekonomi,” ujarnya.
Menurutnya, program ini merupakan kegiatan berkelanjutan yang telah dijalankan sejak 2017 dengan fokus pemanfaatan bahan lokal hasil daur ulang. Hingga kini, hampir sepuluh ribu guru di Kalimantan Timur telah mengikuti pelatihan melalui roadshow ke berbagai kecamatan.
Produk hasil pelatihan bahkan telah digunakan dalam berbagai kegiatan resmi, termasuk acara VVIP dan ruang DPRD Kutai Kartanegara, membuktikan bahwa limbah dapat diubah menjadi produk berkualitas.
Dari sisi pendidikan, Kasi PSMA dan PKLK Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III Kaltim, Fadli Yulizannur, menilai kegiatan ini efektif memperkuat karakter kreatif dan mandiri siswa. Selain mengasah keterampilan, siswa juga didorong memiliki kesadaran lingkungan dan jiwa wirausaha.
“Anak-anak belajar bahwa sampah bukan hanya masalah, tetapi juga peluang. Produk yang mereka hasilkan bisa digunakan bahkan dijual untuk menambah uang saku,” katanya.
Ia menambahkan, sekolah juga didorong membangun kebiasaan ramah lingkungan melalui pengurangan sampah plastik, seperti penggunaan tumbler dan pemilahan sampah sejak dari kelas.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLHK Kaltim, Syamsuddin, mengapresiasi kegiatan tersebut karena sejalan dengan upaya pembentukan budaya pengelolaan sampah berkelanjutan di lingkungan pendidikan. Siswa dikenalkan pada pemilahan sampah organik dan anorganik serta pemanfaatannya.
“Kita semua penghasil sampah, maka harus bertanggung jawab mengelolanya. Jika dipilah dan dimanfaatkan, sampah justru memberi nilai tambah,” ungkapnya.
DLHK Kaltim juga mendorong sekolah membentuk bank sampah sebagai sarana praktik ekonomi sirkular. Melalui bank sampah, siswa dapat menabung sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi dan dicatat secara berkelanjutan.
Pendampingan lanjutan akan terus dilakukan agar kegiatan tidak berhenti pada pelatihan semata, melainkan menjadi kebiasaan dan budaya di sekolah.
“Harapan kami, sekolah menjadi pusat edukasi lingkungan sekaligus penggerak kreativitas generasi muda dalam menciptakan solusi dari persoalan sampah,” tutup Syamsuddin. (*van)

















