BALIKPAPAN: Di tengah tantangan suplai air bersih dan pertumbuhan kota yang kian pesat, Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) memilih strategi berbeda. Tidak hanya menambah produksi, perusahaan daerah ini memprioritaskan penyelamatan air yang selama ini hilang di jaringan distribusi melalui agenda besar Transformasi PTMB 2026.
Direktur Utama PTMB, Yudhi Saharuddin, menegaskan transformasi tersebut merupakan pembenahan menyeluruh dari hulu ke hilir, dengan fokus pada efisiensi sistem, pengurangan kebocoran, serta digitalisasi layanan.
“Setiap tetes air yang berhasil kita selamatkan adalah tambahan pasokan bagi warga. Oleh karena itu, pengurangan kebocoran menjadi strategi paling rasional dan berdampak langsung,” ujarnya, pada hari Rabu, 4 Maret 2026.
Dalam periode terakhir, produksi air PTMB tercatat mencapai 46,6 juta meter kubik dengan cakupan layanan 79,32 persen. Meski menunjukkan tren positif, PTMB mengakui masih terdapat wilayah dengan tekanan rendah dan distribusi belum optimal.
Tahun 2026 ditetapkan sebagai fase akselerasi. Fokusnya bukan sekadar mempertahankan stabilitas, melainkan memastikan air mengalir lebih merata hingga pelanggan terjauh.
Salah satu program utama dalam transformasi ini adalah “Perang Melawan Kebocoran”. PTMB menargetkan penurunan angka Non-Revenue Water (NRW) hingga 28,48 persen, disertai penggantian lebih dari 32.500 meter pelanggan.
Langkah ini diyakini mampu meningkatkan suplai efektif tanpa harus selalu membangun instalasi baru. Dengan menekan kehilangan air, kapasitas distribusi bisa meningkat secara signifikan.
Di sisi hulu, PTMB mengoptimalkan Waduk Manggar sebagai sumber air baku utama. Selain itu, eksplorasi sumur dalam disiapkan sebagai cadangan strategis, khususnya di wilayah Timur dan Utara.
Kebijakan ini penting untuk menjaga ketahanan pasokan saat musim kemarau serta mengantisipasi lonjakan kebutuhan, akibat pertumbuhan penduduk dan pembangunan kota.
Transformasi 2026 juga menyentuh sistem pelayanan. PTMB mengembangkan sistem manajemen berbasis satu data terintegrasi untuk mempercepat pengambilan keputusan. Pelaporan gangguan secara digital diharapkan memangkas waktu respons terhadap keluhan pelanggan.
“Kami ingin perubahan ini dirasakan nyata. Tekanan air lebih stabil, informasi gangguan transparan, dan laporan langsung ditindaklanjuti,” tegas Yudhi.
Bagi Balikpapan, air bersih bukan sekadar layanan utilitas, melainkan fondasi kesehatan publik dan aktivitas ekonomi. Sistem yang kuat akan menopang stabilitas kota dalam jangka panjang.
Melalui Transformasi PTMB 2026, perusahaan daerah ini menargetkan penyelesaian persoalan air bersih secara sistemik dan terukur, sekaligus memperluas akses bagi masyarakat berpenghasilan rendah.(las)

















