KUKAR: Banjir susulan kembali merendam hampir seluruh wilayah Kecamatan Tabang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), dengan ketinggian air mencapai hampir dua meter dan berdampak pada 18 desa dari 19 desa terendam dan aktivitas warga terganggu.
Camat Tabang, Rakhmadani Hidayat, mengatakan banjir yang terjadi saat ini merupakan banjir susulan setelah sebelumnya wilayah tersebut juga terdampak banjir pada Kamis pekan lalu.
“Banjir ini sudah terjadi sejak Minggu kemarin. Sebenarnya ini banjir kedua susulan dari banjir hari Kamis minggu lalu. Namun, pada Kamis itu ketinggian air masih rendah,” ujarnya, Senin (12/1/2026).
Ia menjelaskan, pada banjir pertama, genangan air hanya mencapai beberapa sentimeter dan tidak merendam seluruh wilayah Desa Sido Mulyo. Namun, banjir susulan pada Minggu memiliki ketinggian air yang jauh lebih tinggi.
“Kalau yang hari Minggu dan sampai hari ini ketinggiannya cukup tinggi. Berdasarkan rata-rata, elevasi air hampir mencapai dua meter,” jelasnya.
Dari total 19 desa di Kecamatan Tabang, sebanyak 18 desa terdampak banjir. Satu-satunya desa yang tidak terdampak adalah Desa Bilah Talang karena memiliki elevasi permukiman yang lebih tinggi dibanding desa lainnya.
Terkait kondisi warga, Rakhmadani menyebutkan hingga saat ini masyarakat belum melakukan pengungsian. Berdasarkan laporan dari pemerintah desa, warga masih bertahan di rumah masing-masing.
“Ini banjir rutinan yang hampir setiap tahun terjadi dan biasanya hanya berlangsung satu sampai dua hari, sehingga masyarakat masih berdiam di rumah,” katanya.
Meski demikian, banjir menyebabkan gangguan pada akses darat dan distribusi logistik. Salah satu titik terdampak berada di jalur Poros PU, tepatnya di wilayah Desa Umak Dian dan sekitar Jembatan Tenjalin.
“Di jalur poros PU itu ada titik yang terendam banjir, sehingga suplai logistik seperti bahan baku solar untuk PLN hari ini terganggu dan tidak bisa sampai,” ujarnya.
Akibatnya, pasokan listrik di sejumlah desa ikut terdampak. Rakhmadani mengatakan listrik saat ini tidak menyala secara normal.
“Listrik kadang nyala, kadang mati. Tidak bisa 24 jam, tergantung kondisi genangan banjir,” ungkapnya.
Ia merinci, sebanyak 13 desa di Tabang menggunakan pasokan listrik dari PLN UPTD, sementara enam desa di zona hilir menggunakan suplai listrik dari PLTA dan PLTU. Seluruh wilayah tersebut terdampak oleh kondisi banjir.
Sebagai langkah mitigasi, pihak kecamatan terus berkoordinasi secara intensif dengan para kepala desa dan perangkat desa melalui forum grup komunikasi. Selain itu, jajaran kecamatan juga diturunkan ke lapangan untuk pemantauan.
“Kendala kami adalah keterbatasan sarana dan prasarana, terutama untuk mobilisasi di sungai atau perairan,” jelasnya. (*van)

















