Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
ADVERTORIALKUTAI KARTANEGARA

Bahasa Kutai Jadi Simbol Identitas Lokal, Disdikbud Kukar Perkuat Lewat Mulok

467
×

Bahasa Kutai Jadi Simbol Identitas Lokal, Disdikbud Kukar Perkuat Lewat Mulok

Share this article
23358b4f 9a6c 402e 8572 f96f846f0e7a
Kepala Disdikbud Kukar Thauhid Afrilian Noor (and/dutakaltimnews.com)
Example 468x60

KUKAR : Kutai Kartanegara (Kukar) terus memperkuat identitas budaya lokal dengan menjadikan Bahasa Kutai sebagai bagian dari mata pelajaran muatan lokal (mulok) di sekolah. Upaya ini dipandang strategis, terutama karena Kukar berbatasan langsung dengan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang akan menjadi pusat pertemuan budaya dari berbagai daerah.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Thauhid Afrilian Noor, menegaskan bahwa mulok Bahasa Kutai sudah dijalankan sejak 2023 dan hingga kini terus diperluas penerapannya di SD maupun SMP.

“Kita ingin anak-anak tidak hanya bisa berbahasa Kutai dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga memahami bahwa bahasa ini adalah identitas daerah yang harus dibanggakan,” jelasnya.

Menurut Thauhid, penguatan mulok Bahasa Kutai di sekolah juga menjadi langkah penting menghadapi derasnya arus globalisasi dan modernisasi. Ia menilai, tanpa intervensi nyata, generasi muda berpotensi semakin jauh dari bahasa ibu.

“Dengan pembelajaran terstruktur di sekolah, anak-anak terbiasa mendengar, membaca, dan berbicara Bahasa Kutai sejak dini,” tambahnya.

Keseriusan Pemkab Kukar ini bahkan mendapat apresiasi nasional. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI menganugerahkan penghargaan Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) kepada Kukar bersama 20 daerah lain di Indonesia. Penghargaan itu menegaskan bahwa Kukar konsisten menjaga warisan budaya leluhur melalui pendidikan.

Tak hanya melalui pembelajaran di kelas, Disdikbud Kukar juga memperkenalkan Bahasa Kutai lewat berbagai medium populer. Mulai dari penggunaan media sosial, kegiatan duta budaya Sadi dan Sengkaka, hingga kolaborasi dengan komunitas lokal.

“Ini adalah cara kami agar Bahasa Kutai semakin dikenal luas, tidak hanya di Kukar, tapi juga di luar daerah,” terang Thauhid.

Konteks Kukar yang kini menjadi wilayah penyangga IKN membuat pelestarian bahasa daerah semakin relevan. Thauhid menegaskan, keberadaan IKN harus menjadi peluang untuk memperkenalkan Bahasa Kutai ke masyarakat luas, termasuk para pendatang yang akan berinteraksi di kawasan tersebut.

“Bahasa Kutai harus hidup berdampingan dengan dinamika baru di IKN, agar identitas lokal tetap kuat,” ujarnya.

Thauhid berharap masyarakat juga terlibat aktif menjaga eksistensi Bahasa Kutai. Sebab, pendidikan di sekolah hanya menjadi bagian dari proses. Lingkungan keluarga dan komunitas tetap memegang peran penting agar bahasa daerah ini terus digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau anak-anak terbiasa mendengar orang tuanya berbahasa Kutai di rumah, itu akan memperkuat pembelajaran di sekolah. Dengan begitu, kita tidak hanya melestarikan bahasa, tapi juga memperkuat jati diri masyarakat Kutai Kartanegara,” pungkas Thauhid. (Adv/and)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *