KUKAR : Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus berbenah dalam pembangunan infrastruktur, khususnya konektivitas antarwilayah. Salah satu fokus utamanya adalah membangun jalur strategis Lamin Pulut–Lamin Telihan Kecamatan Kenohan yang akan menghubungkan Kabupaten Kutai Kartanegara dengan Kabupaten Kutai Barat. Jika rampung, akses yang sebelumnya menempuh jarak lebih dari 100 kilometer dapat terpangkas secara signifikan.
Kabid Bina Marga Dinas PU Kukar, Linda Juniarti, menegaskan bahwa manfaat dari pembangunan ini sangat besar, baik warga Kukar yang akan ke Kutai Barat atau sebaliknya, yang selama ini harus menggunakan jalan-jalan kebun sawit untuk mencapai wilayah Kukar.
“Kami mendapat informasi dari DPRD Kutai Barat saat mereka berkunjung ke Kukar. Mereka menyampaikan bahwa masyarakat terpaksa lewat jalan kebun karena jalan utama terputus akibat jembatan kayu yang runtuh,” ungkap Linda Selasa (20/5/2025).

Meski kondisi jalan kebun sawit tak ideal penuh blok dan tak mulus namun jalur itu tetap menjadi pilihan karena lebih cepat dibandingkan jalur Gusik yang jauh lebih memutar. Oleh karena itu, Pemprov Kalimantan Timur turut mendukung proyek ini. Detail Engineering Design (DED) ditargetkan selesai pada 2024 dan diharapkan ada pembagian pendanaan antara Pemprov dan Pemkab Kukar.
“Bila nantinya jalan ini diambil alih provinsi, tentu akan meringankan beban pemeliharaan di tingkat kabupaten,” tambah Linda.
Ia menjelaskan bahwa saat ini sudah banyak ruas jalan yang menghubungkan Kukar dan Kutai Barat, namun banyak yang butuh peningkatan kondisi agar benar-benar layak dilalui.
Tak hanya ke Kutai Barat, Kukar juga memperkuat akses ke Kutai Timur melalui pembangunan ruas Muara Kaman–Muara Bengkal. Dalam proyek ini, peran sektor swasta juga dilibatkan. Beberapa perusahaan telah diundang untuk berpartisipasi dalam pembukaan badan jalan sepanjang 12 kilometer. Pertemuan koordinasi bahkan telah digelar sejak Februari atau Maret lalu, tepatnya saat bulan puasa.
“Peta jalan dan koordinat lokasi sudah kami sampaikan ke perusahaan. Namun, pembagian tugas masih belum final. Misalnya, perusahaan A bertanggung jawab dari STA sekian ke sekian, itu yang masih kami godok,” jelas Linda.
Selain itu, ruas Teluk Dalam–Jongkang juga terus diperbaiki dan kini sudah menawarkan jalur yang lebih pendek. Untuk tahun 2025, sejumlah pekerjaan jalan terus digenjot, di antaranya ruas Anggana–Badak sepanjang 5 km dan ruas Kota Bangun–Kenohan sekitar 4,6 km. Ruas lainnya hanya tinggal tahap pelebaran sekitar 4 km di satu sisi.
Total panjang jalan yang direncanakan dalam proyek ini adalah 23,17 kilometer, termasuk yang melewati Desa Saliki. Meski ada ruas kecil sepanjang 23 meter di desa tersebut, pembangunan tetap dilakukan bertahap.
“Tahun ini kita kerjakan 5 kilometer dulu. Sisanya dilanjutkan sesuai kemampuan anggaran,” kata Linda.
Karena proyek ini bersifat tahun tunggal, maka penyelesaian penuh hanya bisa dilakukan jika menggunakan skema multiyears. Tahun ini, proyek jalan antarwilayah ini didukung anggaran sebesar Rp50 miliar, terdiri dari Rp10 miliar dari dana Bantuan Keuangan (Bankeu) dan Rp40 miliar dari APBD.
“Dengan peningkatan konektivitas ini, kami berharap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan bisa terdongkrak secara signifikan.” pungkasnya (Adv/dk).

















