KUKAR: Pelaksanaan Erau Adat Kutai 2026 tak hanya menjadi magnet bagi wisatawan dan masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sebanyak 26 stan UMKM disediakan gratis di depan Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara, Tenggarong, sehingga pelaku usaha dapat memanfaatkan tingginya kunjungan untuk meningkatkan penjualan.
Beragam produk kuliner ditawarkan dalam bazar tersebut, mulai dari makanan ringan hingga makanan berat. Jajanan tradisional seperti kue keroncong, jajak cincin, elat sapi, dan amplang menjadi bagian dari produk yang dapat dinikmati pengunjung.
Fasilitas stan tanpa biaya sewa memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk berjualan sekaligus memperkenalkan produknya kepada pasar yang lebih luas. Pengunjung juga disediakan tempat duduk sehingga dapat langsung menikmati makanan di kawasan bazar.

Salah satu pelaku UMKM, Fatmawati, mengatakan keberadaan stan gratis tersebut sangat membantu pelaku usaha dalam memanfaatkan momentum Erau untuk meningkatkan penjualan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah yang selalu memberikan ruang dan fasilitas kepada kami di setiap kegiatan seperti Erau ini,” ujar Fatmawati Kamis (24/9/2026).
Menurutnya, kegiatan dengan jumlah pengunjung yang tinggi menjadi kesempatan bagi pelaku UMKM kuliner untuk memperluas pemasaran sekaligus meningkatkan pendapatan.
Ia berharap kegiatan serupa ke depan semakin ramai sehingga transaksi UMKM ikut meningkat dan jajanan tradisional semakin dikenal masyarakat.
“Harapannya ke depan bisa lebih ramai lagi dan banyak masyarakat yang membeli jajanan tradisional seperti kue keroncong, jajak cincin, elat sapi, dan amplang,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (DiskopUKM) Kukar Muhammad Reza mengatakan, keterlibatan UMKM dalam Erau merupakan bagian dari kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) untuk memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat.
Menurutnya, DiskopUKM menyiapkan UMKM binaan untuk mengisi stan yang telah disediakan panitia. Lokasi berjualan tersebut diberikan secara gratis sehingga pelaku usaha tidak terbebani biaya sewa selama mengikuti kegiatan.
“Memang kita diminta oleh panitia, dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bersama lintas sektoral, agar setiap OPD yang memiliki binaan UMKM ikut serta meramaikan kegiatan Erau,” kata Reza.
UMKM yang dilibatkan berasal dari sejumlah titik di Tenggarong dan sekitarnya. Sebagian merupakan pelaku usaha yang telah rutin berjualan pada kegiatan Car Free Day (CFD), malam minggu, maupun titik-titik kuliner lainnya.
Reza mengatakan, mayoritas stan di kawasan depan Kedaton diisi pelaku UMKM kuliner.
Penempatan tersebut disesuaikan dengan karakter kawasan yang menjadi salah satu titik aktivitas masyarakat selama rangkaian Erau.
Ia menilai kegiatan daerah seperti Erau dapat menjadi ruang strategis bagi UMKM untuk memperluas pasar. Semakin banyak masyarakat yang datang dan berbelanja, semakin besar pula peluang transaksi yang tercipta bagi pelaku usaha.
“Ini salah satu bentuk kita memberikan fasilitas bagi UMKM agar mereka mendapatkan tempat untuk berjualan dan mengembangkan usahanya,” ujarnya.
Reza menambahkan, kegiatan pemerintah daerah yang melibatkan UMKM diharapkan tidak berhenti pada aspek partisipasi. Lebih jauh, kegiatan tersebut harus mampu memberikan manfaat ekonomi melalui peningkatan aktivitas jual beli dan pendapatan pelaku usaha.
“Dengan kegiatan seperti ini, sektor UMKM dapat terbantu dan ikut menggerakkan ekonomi para pelaku UMKM,” tandasnya. (and)

















