KUKAR: Warga Kelurahan Pendingin, Kecamatan Sangasanga, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), masih menghadapi keterbatasan air bersih untuk kebutuhan konsumsi di tengah kondisi kemarau.
Ketua Karang Taruna Kecamatan Sangasanga, Muhammad Taufik Rahman, mengatakan kebutuhan air bersih warga saat ini cukup mendesak. Ia berharap dukungan dari pemerintah, perusahaan maupun instansi terkait dapat membantu memasok air bersih bagi masyarakat.
Menurutnya, bantuan air bersih sebelumnya telah disalurkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar bekerja sama dengan Baznas. Selain itu, bantuan juga datang dari perkumpulan Bipaksi bersama para guru yang bekerja sama dengan Dompet Dhuafa.
“Dua hari ini ada bantuan air bersih dari perkumpulan Bipaksi dan guru-guru bekerja sama dengan Dompet Dhuafa untuk warga,” ujar Taufik Sabtu (19/9/2026).
Ia berharap bantuan tersebut dapat terus berlanjut, mengingat kebutuhan air bersih warga cukup tinggi. Taufik juga mendorong perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah Sangasanga untuk ikut berkontribusi membantu penyediaan air bersih.
Senada, Lurah Pendingin, Rahmat Hidayat, menjelaskan kondisi kekurangan air bersih terjadi karena saat musim kemarau air di wilayah tersebut rentan terkena intrusi air laut.
“Kalau kemarau, di tempat kami memang riskan air asin karena terkena intrusi air laut,” kata Rahmat.
Ia menyebut kondisi tersebut terutama menjadi persoalan untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari, seperti memasak, minum, serta kebutuhan bayi. Sementara untuk kebutuhan mandi, cuci dan kakus (MCK), masyarakat masih relatif dapat mengandalkan sumber air yang tersedia.
Menurut Rahmat, kondisi kekurangan air bersih tidak hanya terjadi di satu atau dua RT, tetapi dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Kelurahan Pendingin.
Pihak kelurahan juga telah mengupayakan bantuan kepada sejumlah perusahaan. Namun, distribusinya masih dilakukan secara bertahap dan bergiliran.
“Kalau untuk air minum, ada juga pihak perusahaan yang membantu. Satu orang mendapat sekitar 10 galon, tetapi penyalurannya sebulan sekali dan bergiliran,” jelasnya.
Dengan jumlah warga yang mencapai sekitar 1.000 hingga 1.200 kepala keluarga, bantuan tersebut dinilai masih belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, bantuan air bersih biasanya didistribusikan kepada dua hingga tiga RT dalam satu pekan secara bergiliran.
Rahmat mengatakan, lamanya kondisi kekeringan sangat bergantung pada intensitas hujan. Berbeda dengan wilayah Sangasanga yang kondisi air asinnya dapat bertahan hingga beberapa bulan, wilayah Pendingin yang berada dekat dengan Sungai Mahakam relatif lebih cepat mengalami perubahan kualitas air setelah turun hujan.
“Kalau di Pendingin, karena langsung ke Mahakam, kalau beberapa kali hujan airnya bisa kembali tawar. Tetapi kalau di Sangasanga, meskipun hujan, bisa tetap asin sampai tiga atau empat bulan,” ujarnya.
Ia berharap dukungan dari pemerintah dan perusahaan sekitar dapat terus diberikan selama kondisi kemarau berlangsung.
“Harapan kami selalu ada kontribusi dari perusahaan dan pemerintah. Kalau dari pemerintah mungkin terbatas karena kondisi seperti ini juga terjadi di banyak daerah. Jadi kami berharap perusahaan-perusahaan yang terdekat bisa membantu,” pungkasnya. (and)

















