Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
KUTAI KARTANEGARA

Kejahatan Finansial Siber Telan Kerugian Rp9,1 Triliun, Polda Kaltim Luncurkan CRC di Kukar

272
×

Kejahatan Finansial Siber Telan Kerugian Rp9,1 Triliun, Polda Kaltim Luncurkan CRC di Kukar

Share this article
Mini Launching Cyber Resilient Community Melalui Pemolisian Masyarakat yang Kolaboratif Guna Mitigasi Kejahatan Finansial Cyber. (Irvan/dutakaltimnews.com)
Mini Launching Cyber Resilient Community Melalui Pemolisian Masyarakat yang Kolaboratif Guna Mitigasi Kejahatan Finansial Cyber. (Irvan/dutakaltimnews.com)
Example 468x60

KUKAR: Kerugian akibat kejahatan finansial berbasis siber secara nasional telah mencapai sekitar Rp9,1 triliun. Untuk mencegah semakin banyak masyarakat menjadi korban, Polda Kalimantan Timur (Kaltim) bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) meluncurkan Cyber Resilient Community (CRC) melalui pemolisian masyarakat yang kolaboratif di Pendopo Odah Etam Tenggarong, Senin (3/8/2026).

Dirbinmas Polda Kaltim Kombes Pol Arman mengatakan, kegiatan ini menjadi langkah untuk memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi berbagai bentuk kejahatan finansial di ruang siber.

“Mini launching hari ini berkaitan dengan ketahanan publik di ruang siber atau bagaimana masyarakat menghadapi kejahatan financial cyber, yaitu kejahatan siber yang bersifat finansial,” ujarnya.

mini launcing

Ia menjelaskan, penanganan kejahatan siber selama ini telah menjadi tugas masing-masing instansi, seperti Kominfo, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), maupun Polri. Namun, melalui CRC, berbagai pihak tersebut akan dikolaborasikan, termasuk melibatkan akademisi.

Kolaborasi tersebut nantinya menghasilkan materi yang lebih komprehensif untuk diberikan kepada para Bhabinkamtibmas. Setelah mendapatkan pembekalan, Bhabinkamtibmas di seluruh wilayah Kaltim akan turun ke masyarakat untuk memberikan edukasi dan langkah-langkah pencegahan.

“Harapannya, para Bhabinkamtibmas dapat menyampaikan edukasi kepada masyarakat sebagai langkah antisipasi agar tidak menjadi korban kejahatan finansial berbasis siber,” jelasnya.

Menurutnya, materi yang diberikan akan difokuskan pada berbagai kejahatan siber yang dapat menimbulkan kerugian finansial. Di antaranya pinjaman online ilegal, penyalahgunaan data pribadi, penipuan investasi, hingga berbagai modus penipuan lainnya.

Selain mengenali modus kejahatan, masyarakat juga akan diberikan pemahaman mengenai mekanisme pelaporan ketika menjadi korban.

“Pelaporan menjadi hal yang penting karena kejahatan finansial berbasis siber berlangsung sangat cepat. Dalam hitungan detik, uang korban bisa berpindah tangan sehingga semakin sulit untuk dilacak apabila penanganannya terlambat,” katanya.

Arman menyebut, laporan kejahatan finansial siber saat ini masih relatif sedikit. Karena itu, sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat perlu terus ditingkatkan.

Secara nasional, nilai kerugian akibat kejahatan finansial berbasis siber bahkan telah mencapai sekitar Rp9,1 triliun.

Ia menambahkan, sejumlah modus yang kerap ditemukan antara lain pelaku yang menghubungi korban melalui telepon dan mengaku sebagai pihak tertentu, serta penipuan berkedok investasi. Meski modus tersebut sudah lama dikenal, pola kejahatan terus berkembang dan semakin beragam.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar Sunggono mengatakan, pelaksanaan CRC di Kukar merupakan tindak lanjut atas permintaan Bupati Kukar.

“Yang jelas kegiatan Cyber Resilience Community ini dilaksanakan di Kukar atas permintaan Bapak Bupati. Ini menunjukkan bahwa Bapak Bupati dan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara sangat berkeinginan agar Cyber Resilience Community bisa menjadi bagian penting dalam bagaimana pembangunan di Kutai Kartanegara mampu menghadapi kejahatan siber,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat perlu semakin memahami bahwa kejahatan siber terus berkembang dengan berbagai bentuk dan modus yang semakin sulit diidentifikasi.

Namun, ia menilai kejahatan tersebut tetap dapat diantisipasi apabila seluruh pihak membangun kolaborasi dan meningkatkan kewaspadaan bersama.

“Karena itu, peserta yang dilibatkan dalam kegiatan ini berasal dari berbagai unsur, mulai dari kelompok masyarakat hingga tokoh agama. Harapannya, mereka nantinya dapat saling berbagi informasi apabila ada indikasi kejahatan siber di lingkungan mereka, sekaligus mengetahui bagaimana cara menghadapinya,” pungkasnya. (*van)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *