JAKARTA – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengatakan program Magang Nasional (MagangHub) untuk mempersiapkan kompetensi para lulusan baru (fresh graduate) perguruan tinggi, demi menekan angka pengangguran muda di Indonesia.
“Kemnaker berharap program Magang Nasional dapat berkontribusi pada pengurangan pengangguran muda melalui peningkatan daya saing dan kesiapan kerja lulusan baru,” kata Kepala Biro Humas Kemnaker Faried Abdurrahman Nur Yuliono saat dihubungi di Jakarta, Senin.
Lebih lanjut, Faried menggarisbawahi bahwa salah satu tantangan utama lulusan muda adalah kesenjangan antara kompetensi yang diperoleh di pendidikan formal dengan kebutuhan riil dunia kerja.
Ia mengatakan, banyak lulusan baru menghadapi situasi ketika lowongan kerja mensyaratkan pengalaman, sementara mereka belum memperoleh kesempatan untuk mendapatkan pengalaman tersebut.
“Program ini memberikan ruang bagi lulusan perguruan tinggi untuk memperoleh pengalaman kerja nyata selama enam bulan, mendapat bimbingan dari mentor, memahami budaya kerja, mengasah kompetensi teknis dan nonteknis, serta membangun portofolio dan jejaring profesional,” ujar Faried.
Dengan pengalaman tersebut, katanya lagi, peserta diharapkan tidak hanya lebih siap mencari kerja, tetapi juga lebih siap bertahan, beradaptasi, dan berkembang di tempat kerja.
Kemnaker mencatat, pada pelaksanaan sebelumnya, sekitar 30 persen peserta telah mendapatkan tawaran pekerjaan setelah program berakhir.
Selain itu, sekitar 34 persen peserta belum mendapatkan tawaran resmi, tetapi sudah terdapat indikasi atau peluang untuk ditawarkan bekerja, sementara sekitar 36 persen belum mendapatkan tawaran kerja.
“Data ini penting dibaca secara utuh. Artinya, program magang tidak otomatis menjamin seluruh peserta langsung bekerja, tetapi sudah menunjukkan adanya jalur transisi yang nyata dari magang menuju kesempatan kerja,” kata Faried.
Dari peserta yang mendapatkan tawaran kerja, sektor yang paling banyak menyerap antara lain sektor keuangan sebesar 23,4 persen, perdagangan besar/wholesale trade sebesar 17,9 persen, manufaktur sebesar 16,5 persen, dan kesehatan sebesar 10,3 persen.
“Ini menjadi masukan bagi Kemnaker untuk memperkuat kolaborasi dengan sektor-sektor yang memiliki kebutuhan tenaga kerja tinggi, sekaligus memperluas partisipasi sektor lain, agar kesempatan peserta semakin beragam,” ujarnya.
Ia berharap, Magang Nasional 2026 dapat memberi dampak dalam tiga lapis, mulai dari peningkatan kompetensi dan pengalaman peserta; tersedianya talenta muda yang siap kerja bagi perusahaan; dan berkurangnya kesenjangan kompetensi di pasar kerja nasional.
“Program Magang Nasional menjadi salah satu upaya konkret pemerintah dalam mengurangi pengangguran muda, terutama pengangguran lulusan perguruan tinggi, melalui pendekatan yang lebih langsung,” kata Faried.
“Yaitu mempertemukan lulusan baru dengan dunia kerja, memberikan pengalaman riil, memperkuat kompetensi, dan membuka peluang rekrutmen setelah program selesai,” katanya pula.
(Sumber: antaranews.com)

















