Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
KUTAI KARTANEGARA

Diskusi Publik Literasi Sejarah di Tenggarong, Generasi Muda Diajak Kenali Jejak Sultan AM Idris.

231
×

Diskusi Publik Literasi Sejarah di Tenggarong, Generasi Muda Diajak Kenali Jejak Sultan AM Idris.

Share this article
Diskusi Publik dan Pameran Polahan Etam. (Irvan/dutakaltimnews.com)
Diskusi Publik dan Pameran Polahan Etam. (Irvan/dutakaltimnews.com)
Example 468x60

KUKAR: Upaya memperkuat literasi sejarah lokal kembali diperkuat dan dikenalkan di Kutai Kartanegara (Kukar), melalui Forum Diskusi Publik Hari Buku Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional 2026 yang digelar di Pasar Tangga Arung Square (TAS), Tenggarong, Senin (18/5/2026).

Forum bertajuk “Pahlawan Nasional Sultan Aji Muhammad Idris; Spirit Masa Silam dan Teladan Masa Kini” itu menjadi ruang edukasi bagi generasi muda untuk mengenal lebih dekat sosok Sultan Aji Muhammad Idris sebagai pejuang nasional asal Tanah Kutai yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah Nusantara.

Kegiatan yang diselenggarakan Lasaloka KSB bersama SMSI Kukar tersebut menghadirkan budayawan Kalimantan Timur (Kaltim), Muhammad Sarip, Bupati Kukar Aulia Rahman Basri, serta Pemuda Pelopor Kaltim 2024 bidang pendidikan, Ada Al Ali Murrabbaniah, dengan peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, komunitas literasi hingga jurnalis.

Dalam pemaparannya, Muhammad Sarip menegaskan Sultan AM Idris bukan sekadar tokoh Kesultanan Kutai Kartanegara, melainkan figur pejuang Nusantara yang memiliki peran besar melawan VOC pada abad ke-18.

“Sultan Aji Muhammad Idris adalah tokoh pejuang, dengan jejak sejarah membantu Sultan Wajo berperang melawan VOC,” ujarnya.

Sarip menjelaskan keteladanan Sultan AM Idris dapat dilihat dari tiga sisi utama, yakni sebagai tokoh budaya Kutai, pejuang anti-penjajahan, dan tokoh dakwah Islam yang inklusif.

Menurutnya, kepemimpinan Sultan AM Idris membuktikan bahwa Tanah Kutai sejak dahulu telah melahirkan tokoh dengan pengaruh besar bagi Nusantara.

Selain dikenal sebagai pejuang, Sultan AM Idris juga disebut memiliki peran penting dalam perkembangan intelektual Islam dan tata pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara.

“Beliau juga merupakan tokoh intelektual Islam. Ada riwayat yang menyatakan kitab konstitusi kesultanan Panji Salatin hingga Undang-Undang Beraja Nanti disusun pada masa Sultan Aji Muhammad Idris,” jelasnya.

Sarip turut menyinggung luas wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara di masa lampau yang mencakup sejumlah kawasan penting di Kalimantan Timur hingga wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN).

Sementara itu, Bupati Kukar Aulia Rahman Basri menilai semangat patriotisme Sultan AM Idris masih sangat relevan diterapkan generasi muda saat ini, terutama dalam menghadapi tantangan masa depan.

“Beliau sebenarnya memiliki zona nyaman yang luar biasa. Tapi ketika diminta membantu melawan VOC, beliau meninggalkan semuanya demi membela tanah kelahirannya,” kata Aulia.

Menurutnya, keberanian meninggalkan kenyamanan demi perjuangan menjadi nilai penting yang harus diwariskan kepada generasi muda Kukar.

“Hari ini kita memang tidak berperang melawan penjajah, tapi kita berperang melawan masa depan,” ujarnya.

Aulia juga menekankan pentingnya membangun rasa bangga terhadap identitas daerah dan sejarah lokal agar generasi muda tidak kehilangan jati diri.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa Sultan AM Idris, Pemkab Kukar mulai mengabadikan nama pahlawan nasional tersebut pada sejumlah fasilitas publik, termasuk rumah sakit daerah.

“Saya sepakat nama beliau harus terus digaungkan. Muatan lokal di sekolah juga harus bicara tentang Sultan Aji Muhammad Idris supaya anak-anak bangga mengatakan mereka cucu Sultan Aji Muhammad Idris,” tegasnya.

Di sisi lain, Ada Al Ali Murrabbaniah atau Alda menilai nilai perjuangan Sultan AM Idris dapat diterapkan generasi muda melalui kontribusi di berbagai bidang, mulai pendidikan, kreativitas hingga kegiatan sosial.

“Saya yakin pemuda-pemuda lain dapat menerapkan jiwa kepemimpinan yang sama dengan Sultan Aji Muhammad Idris dalam kehidupannya,” tuturnya.

Ketua SMSI Kukar, Angga Triandi, berharap forum tersebut dapat membuka wawasan generasi muda mengenai sejarah perjuangan Sultan AM Idris sekaligus meningkatkan literasi sejarah lokal di tengah perkembangan budaya populer saat ini.

Kegiatan ditutup dengan penyerahan plakat berbahan daur ulang kepada para narasumber sebagai simbol bahwa pelestarian sejarah dapat berjalan berdampingan dengan kepedulian terhadap lingkungan. (*van)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *