Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
KUTAI KARTANEGARAUncategorized

Tengkulak Ikan di Desa Semayang Keluhkan Penurunan Hasil Tangkapan hingga 50 Persen

272
×

Tengkulak Ikan di Desa Semayang Keluhkan Penurunan Hasil Tangkapan hingga 50 Persen

Share this article
Nelayan menurunkan hasil tangkapan ikan di tepian sungai, Desa Semayang, Kecamatan Kenohan. (Dok. Jamal)
Nelayan menurunkan hasil tangkapan ikan di tepian sungai, Desa Semayang, Kecamatan Kenohan. (Dok. Jamal)
Example 468x60

KUKAR: Aktivitas perdagangan ikan di Desa Semayang, Kecamatan Kenohan, mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini dirasakan langsung oleh para tengkulak, salah satunya Jamal, yang menyebut hasil tangkapan nelayan terus menyusut sejak 2018.

Jamal mengungkapkan, penurunan tersebut bahkan mencapai hingga 50 persen dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini berdampak besar terhadap volume transaksi ikan yang selama ini menjadi sumber utama penghidupannya.

“Sangat turun drastis, penurunannya sampai 50 persen,” ujarnya, Rabu, 24/3/2026).

Ia telah menjalankan usaha sebagai tengkulak ikan sejak tahun 2000, dengan membeli hasil tangkapan nelayan dari Desa Semayang dan wilayah sekitarnya. Ikan yang diperoleh kemudian diolah menjadi ikan asin, selain sebagian kecil dijual dalam kondisi segar.

Menurutnya, hampir seluruh hasil produksi dipasarkan ke luar daerah, terutama ke Jakarta. Sementara pasar lokal hanya menyerap sebagian kecil dari total produksi.

“99 persen penjualan ke Jakarta, hanya 1 persen yang berputar di kampung ini,” jelasnya.

Jamal menuturkan, pada masa kejayaan usahanya hingga 2017, volume penjualan rata-rata mencapai 150 ton per tahun. Bahkan saat musim panen atau musim kemarau, sekitar Mei hingga Agustus, ia mampu mengumpulkan hingga 8 ton ikan per hari.

Melimpahnya hasil tangkapan pada masa itu turut membuka lapangan kerja bagi masyarakat.

“Tinggal kemampuan modal dan tenaga kerja saja, seberapa sanggup kita membeli ikan itu,” katanya.

Namun sejak 2018, kondisi berbalik. Di luar musim panen, ia kini hanya mampu mengumpulkan sekitar 300 hingga 500 kilogram ikan per hari. Sementara saat musim panen, jumlahnya berkisar 3 ton per hari, jauh menurun dibandingkan sebelumnya.

“Terus terang, sekarang ini usaha ikan asin sangat sulit, jauh menurun,” ungkapnya.

Ia menambahkan, omzet yang diperoleh saat ini hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tidak lagi sebesar sebelumnya.

“Penjualan nelayan menurun, memang ikannya sedikit,” ujarnya.

Terkait penyebab penurunan, Jamal mengaku belum dapat memastikan secara pasti. Namun, ia menyebut adanya keluhan dari nelayan mengenai penggunaan alat tangkap yang semakin modern dan diduga kurang ramah lingkungan.

“Kalau keluhan nelayan karena alat tangkap yang semakin modern,” katanya.

Selain itu, ia juga menilai kemungkinan faktor lingkungan seperti penurunan kualitas air akibat pencemaran turut memengaruhi berkurangnya populasi ikan.

“Memang belum tentu juga apa penyebabnya, yang pasti kondisi sekarang sangat jauh berbeda,” tutupnya. (*van)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *