BALIKPAPAN: Pengungkapan ratusan kasus narkotika di Kalimantan Timur (Kaltim) menyisakan satu fakta yang paling mengusik, pelajar mulai terseret menjadi bagian dari jaringan peredaran.
Dirresnarkoba Polda Kalimantan Timur, Romylus Tamtelahitu, mengungkapkan dari total 202 tersangka yang diamankan, dua di antaranya masih berstatus pelajar. “Ini bukan sekadar angka. Ini sangat mengkhawatirkan. Artinya, pelajar bukan hanya sebagai pengguna, tetapi sudah dipakai sebagai kaki tangan, bahkan kurir,” tegasnya saat konferensi pers pengungkapan kasus narkotika, pada hari Kamis, 26 Februari 2026, di Gedung Mahakam Polda Kaltim.
Menurut Romylus, jaringan narkoba kini menyasar kelompok usia sekolah, karena dianggap lebih mudah dipengaruhi dan dimanfaatkan. Anak-anak dijadikan perantara untuk mengurangi kecurigaan aparat maupun lingkungan sekitar.
Fenomena ini menandakan pergeseran pola peredaran narkoba, dari sekadar membidik konsumen muda menjadi merekrut mereka sebagai bagian dari rantai distribusi. “Ini harus menjadi perhatian kita bersama. Jangan sampai generasi muda kita diperalat sindikat,” ujarnya.
Melihat tren tersebut, Polda Kaltim menegaskan akan menerapkan strategi ganda dengan memperkuat penegakan hukum, sekaligus memperluas pencegahan.
Selain terus melakukan pengungkapan kasus, jajaran kepolisian akan turun langsung ke sekolah-sekolah dan perguruan tinggi untuk memberikan edukasi dan peringatan dini.
“Kita tidak hanya fokus menangkap pelaku, tapi juga mencegah. Anak-anak harus aware bahwa mereka bisa dimanfaatkan sebagai kurir,” jelas Romylus.
Upaya ini akan melibatkan fungsi Binmas dan Bhabinkamtibmas untuk membangun komunikasi intensif dengan pihak sekolah, mahasiswa, serta orang tua.
Polda Kaltim juga membuka ruang partisipasi publik melalui layanan call center 110 dan hotline pengaduan lainnya. Informasi dari masyarakat dinilai krusial untuk mendeteksi lebih cepat jika ada pelajar yang terlibat penyalahgunaan atau peredaran narkoba.
“Kita harus bergerak bersama. Ini bukan hanya tugas polisi, tetapi tanggung jawab semua pihak,” katanya.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa perang melawan narkoba kini memasuki babak yang lebih kompleks. Jika sebelumnya generasi muda hanya menjadi korban penyalahgunaan, kini mereka terancam direkrut menjadi bagian dari jaringan. Tanpa pengawasan dan edukasi yang kuat, ancaman ini bisa semakin meluas.(las)

















