Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
KUTAI KARTANEGARA

Sekolah Ramah Anak di Kukar Tak Berhenti di Anti-Bullying, Detail Lingkungan Pun Diperiksa

270
×

Sekolah Ramah Anak di Kukar Tak Berhenti di Anti-Bullying, Detail Lingkungan Pun Diperiksa

Share this article
Mewujudkan sekolah yang benar-benar ramah bagi anak ternyata tidak cukup hanya dengan memasang papan bertuliskan "anti-bullying". Berbagai detail di lingkungan sekolah juga harus diperhatikan agar aktivitas belajar siswa berlangsung aman dan nyaman.
Lingkungan SDN 003 Tenggarong (Dok. Andri/dutakaltimnews.com)
Example 468x60

KUKAR: Mewujudkan sekolah yang benar-benar ramah bagi anak ternyata tidak cukup hanya dengan memasang papan bertuliskan “anti-bullying”. Berbagai detail di lingkungan sekolah juga harus diperhatikan agar aktivitas belajar siswa berlangsung aman dan nyaman.

Hal itu diterapkan SDN 003 Tenggarong yang terus menyesuaikan lingkungan sekolah dengan konsep Sekolah Ramah Anak (SRA).

Kepala SDN 003 Tenggarong, Kurnia Astuti, mengatakan penerapan sekolah ramah anak membuat pihaknya lebih cermat melihat berbagai potensi risiko yang sebelumnya dianggap sebagai hal biasa.

Salah satunya berkaitan dengan tanaman yang berada di lingkungan sekolah. Tanaman bugenvil yang memiliki duri, misalnya, akhirnya diganti karena dinilai berpotensi melukai siswa.

“Kalau untuk ramah anak, tanaman seperti bugenvil yang berduri itu tidak ramah untuk anak. Akhirnya kami menggantinya dengan tanaman lain,” ujar Kurnia Selasa (15/9/2026).

Tidak hanya tanaman, kondisi meja dan perabot sekolah juga menjadi perhatian. Bagian meja yang memiliki sudut tajam dinilai dapat membahayakan siswa ketika terjatuh atau tidak sengaja terbentur.

Menurut Kurnia, pihak sekolah sempat memberikan pelindung pada bagian yang berisiko tersebut sebelum melakukan penyesuaian lebih lanjut.

“Meja-meja yang ujungnya tajam juga menjadi perhatian. Kalau anak jatuh atau tersenggol, tentu bisa berbahaya,” katanya.

Konsep ramah anak juga diterapkan dalam hubungan antara guru dan peserta didik. Guru tidak hanya dituntut mengajar, tetapi juga memperhatikan cara berkomunikasi dengan anak.

Kurnia menyebut sekolah memiliki panduan dan SOP yang menjadi acuan guru dalam berinteraksi dengan siswa. Pencegahan perundungan atau bullying juga menjadi bagian penting dalam penerapan program tersebut.

“Di SOP juga diatur bagaimana cara berbicara dengan anak. Kami benar-benar memperhatikan hal itu, termasuk memasang imbauan anti-bullying,” ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Pujianto, mengatakan pihaknya terus mendorong satuan pendidikan agar memenuhi kriteria Sekolah Ramah Anak.

Upaya tersebut dilakukan mulai dari pembenahan sarana dan prasarana hingga penguatan kegiatan yang berkaitan dengan perlindungan anak.

“Salah satu upaya yang kami lakukan adalah menyediakan sarana dan prasarana yang aman, seperti pagar sekolah dan bangunan yang ramah anak,” jelas Pujianto.

Disdikbud Kukar juga melakukan asesmen secara berkala terhadap sekolah untuk memastikan penerapan program berjalan sesuai kriteria.

Selain itu, penguatan dilakukan melalui kegiatan seperti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Anak dan sosialisasi pencegahan bullying.

“Setiap tahun kami melakukan asesmen ke sekolah-sekolah untuk memastikan mereka memenuhi kriteria Sekolah Ramah Anak,” ujarnya.

Pujianto menegaskan, menciptakan lingkungan sekolah yang aman bagi anak membutuhkan kerja bersama lintas sektor. Karena itu, Disdikbud Kukar juga berkolaborasi dengan perangkat daerah lain, termasuk Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A).

“Untuk mewujudkan Sekolah Ramah Anak, kami tidak bisa berjalan sendiri. Kami juga berkolaborasi dengan dinas terkait seperti DP3A,” pungkasnya. (and)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *