Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
NASIONAL

Saat Indonesia Menundukkan Kepala, Bersama Mengangkat Harapan

226
×

Saat Indonesia Menundukkan Kepala, Bersama Mengangkat Harapan

Share this article
Foto udara Masjid Istiqlal Jakarta sebagai tempah ibadah umat Muslim terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara serta kerap digunakan untuk kegiatan Zikir atau Doa Bersama Keselamatan Bangsa. (Foto: Istimewa/Istiqlal Global Fund)
Foto udara Masjid Istiqlal Jakarta sebagai tempah ibadah umat Muslim terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara serta kerap digunakan untuk kegiatan Zikir atau Doa Bersama Keselamatan Bangsa. (Foto: Istimewa/Istiqlal Global Fund)
Example 468x60

JAKARTA – Delapan puluh satu tahun lalu, Indonesia lahir dari keberanian untuk percaya bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan. Sejak saat itu, jutaan anak bangsa terus mengisi kemerdekaan dengan kerja, pengabdian, dan harapan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Tahun ini, perjalanan itu akan kembali dimulai dengan sebuah ikhtiar yang sederhana, namun sarat makna. Bukan dentuman pesta atau gemerlap perayaan, melainkan ribuan kepala yang tertunduk dalam doa.

Pada Sabtu, 1 Agustus 2026, sekitar 100 ribu masyarakat dari berbagai agama, suku, profesi, dan latar belakang akan memenuhi Lapangan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, dalam Doa dan Zikir Kebangsaan. Dari pelajar hingga santri, mahasiswa, guru, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, hingga aparatur sipil negara, mereka datang membawa satu identitas yang sama: Indonesia.

Di saat yang sama, masyarakat di berbagai daerah juga diajak memanjatkan doa dari tempat masing-masing. Dari masjid, gereja, pura, vihara, kelenteng, rumah ibadah, hingga rumah-rumah sederhana di pelosok negeri, jutaan doa akan bertemu dalam satu harapan bersama—agar Indonesia terus melangkah menjadi bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur.

Doa menjadi bahasa yang melampaui sekat-sekat perbedaan.

Di tengah dunia yang semakin mudah terbelah oleh perbedaan pandangan, Indonesia justru memilih menunjukkan wajah yang berbeda. Keberagaman tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai fondasi yang memperkuat persatuan.

Itulah makna yang ingin dihadirkan melalui Doa dan Zikir Kebangsaan yang dikoordinasikan Kementerian Sekretariat Negara dan diselenggarakan Kementerian Agama sebagai pembuka rangkaian Hari Ulang Tahun Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, menyebut kegiatan tersebut sebagai ikhtiar spiritual yang mengiringi perjalanan bangsa sekaligus memperkuat persatuan nasional. “Delapan puluh satu tahun membuktikan bahwa Indonesia adalah bangsa yang terus bergerak dan tetap berdiri kuat. Doa dan zikir kebangsaan ini menjadi ungkapan syukur atas kemerdekaan sekaligus permohonan agar bangsa ini senantiasa diberi perlindungan dan kekuatan untuk melangkah bersama mengisi kemerdekaan,” ujarnya.

Kalimat itu mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan sekadar peristiwa sejarah yang diperingati setiap Agustus. Kemerdekaan adalah amanah yang harus terus dijaga. Ia hidup dalam setiap kerja keras petani yang menjaga ketahanan pangan, guru yang mencerdaskan generasi, tenaga kesehatan yang melayani masyarakat, aparat yang menjaga keamanan, pelaku usaha yang menggerakkan ekonomi, hingga jutaan warga yang setiap hari bekerja dengan jujur demi keluarganya.

Indonesia tidak dibangun oleh satu golongan. Tidak pula berdiri karena satu keyakinan. Indonesia tumbuh karena seluruh elemen bangsa memilih berjalan bersama.

Karena itulah doa kebangsaan ini menghadirkan doa lintas agama. Setiap pemuka agama memanjatkan doa menurut keyakinannya masing-masing, namun seluruhnya bermuara pada tujuan yang sama: memohon keselamatan bangsa dan menguatkan persaudaraan sebagai fondasi Indonesia. “Doa ini bukan hanya milik satu kelompok atau satu agama. Seluruh elemen bangsa hadir bersama karena Indonesia dibangun oleh keberagaman yang dipersatukan oleh cita-cita yang sama,” kata Kamaruddin Amin.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa persatuan bukan sesuatu yang hadir dengan sendirinya. Ia harus terus dirawat melalui saling menghormati, saling menjaga, dan saling percaya.

Ketua Panitia Doa dan Zikir Kebangsaan, Abu Rokhmad, melihat momentum ini sebagai representasi wajah Indonesia yang sesungguhnya. “Berbeda keyakinan dan tradisi, tetapi dipersatukan oleh kecintaan yang sama kepada bangsa dan negara,” ujarnya.

Baginya, doa tidak boleh berhenti sebagai ritual. Doa harus menjelma menjadi energi sosial yang menggerakkan kepedulian, memperkuat solidaritas, dan menumbuhkan tanggung jawab kebangsaan.

Harapan yang dipanjatkan dalam doa harus diwujudkan melalui tindakan nyata: menjaga kerukunan, membantu sesama, menaati hukum, menghargai perbedaan, bekerja dengan integritas, serta memberikan kontribusi terbaik sesuai peran masing-masing.

Sebab Indonesia yang lebih baik tidak dibangun hanya oleh pemerintah. Indonesia dibangun oleh seluruh rakyatnya.

Maka ketika sekitar seratus ribu orang berkumpul di Monas dan jutaan lainnya menengadahkan tangan dari berbagai penjuru Nusantara, sesungguhnya yang sedang dipanjatkan bukan hanya doa untuk hari ini. Yang sedang dirawat adalah optimisme bahwa Indonesia akan terus mampu melewati berbagai tantangan, sebagaimana telah dilakukan selama 81 tahun terakhir.

Doa dan Zikir Kebangsaan menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga tentang meneguhkan komitmen untuk masa depan. Bahwa di tengah keberagaman yang dimiliki, Indonesia tetap memiliki satu tujuan, satu cita-cita, dan satu rumah bersama.

Sebab selama persaudaraan tetap dijaga, gotong royong terus dihidupkan, dan harapan tidak pernah padam, Indonesia akan selalu memiliki kekuatan untuk melangkah lebih jauh.

Di usia ke-81, Indonesia kembali memulai perjalanan itu dengan doa. Dan dari doa yang dipanjatkan bersama, tumbuh keyakinan bahwa bangsa ini akan terus bergerak maju menuju Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.

 

(Sumber: indonesia.go.id)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *