Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
DISKOMINFO KUKAR

Puncak Erau Adat Kutai 2026 Meriah, Pemkab Kukar Ajak Masyarakat Jaga Warisan Budaya

265
×

Puncak Erau Adat Kutai 2026 Meriah, Pemkab Kukar Ajak Masyarakat Jaga Warisan Budaya

Share this article
Suasana Prosesi Mengulur Naga dan Belimbur Erau Adat Kutai 2026. (Van/dutakaltimnews.com)
Suasana Prosesi Mengulur Naga dan Belimbur Erau Adat Kutai 2026. (Van/dutakaltimnews.com)
Example 468x60

KUKAR: Ribuan masyarakat memadati kawasan depan Museum Mulawarman, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Minggu (27/9/2026).

Antusiasme warga terlihat saat mengikuti prosesi Ulur Naga dan Belimbur yang menjadi bagian penting dalam rangkaian puncak Erau Adat Kutai 2026.

Kehadiran ribuan masyarakat membuat suasana di sekitar Museum Mulawarman semakin semarak. Warga tampak antusias menyaksikan prosesi adat yang menjadi salah satu tradisi utama dalam rangkaian Erau Adat Kutai.

last day erau 2026

Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan, Ulur Naga dan Belimbur merupakan bagian dari rangkaian kegiatan hari terakhir Erau Adat Kutai 2026.

“Hari ini kita melaksanakan kegiatan hari terakhir Erau, mengulur naga dan beberapa prosesi lainnya ditutup dengan Belimbur. Alhamdulillah kegiatan berjalan dengan baik dan lancar,” ujarnya.

Menurut Aulia, Belimbur tidak sekadar menjadi kegiatan yang melibatkan masyarakat secara langsung. Di dalamnya terdapat filosofi tentang penyucian diri dan saling membersihkan antara satu dengan yang lainnya.

Ia berharap nilai tersebut dapat diterapkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, sehingga semangat kebersamaan yang muncul dalam pelaksanaan Erau tidak berhenti setelah seluruh rangkaian kegiatan berakhir.

“Filosofinya itu menyucikan diri, saling membersihkan diri satu dengan yang lain. Kita berharap dengan adanya kegiatan ini bisa benar-benar terwujud dalam kehidupan kita sehari-hari,” katanya.

Bagi Pemkab Kukar, pelaksanaan Erau Adat 2026 juga menjadi momentum untuk mengingat kembali perjalanan panjang sejarah Kutai Kartanegara.

Aulia mengatakan, keberadaan Kutai Kartanegara tidak terbentuk dalam waktu singkat. Sejarah daerah tersebut memiliki kaitan panjang dengan perjalanan Kerajaan Kutai Ing Martadipura yang telah ada sejak ribuan tahun lalu.

Karena itu, menurutnya, keberadaan Erau tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan adat dan budaya, tetapi juga menjadi pengingat bagi generasi saat ini untuk menjaga daerah serta warisan budaya yang dimiliki Kutai Kartanegara.

“Erau mengingatkan kepada kita bahwa daerah ini tidak satu atau dua hari dibangun. Kita diingatkan bahwa Kabupaten Kutai Kartanegara merupakan bagian dari Kabupaten Kutai pada dulunya, dan Kerajaan Kutai Ing Martadipura sudah ada sejak beribu-ribu tahun yang lalu,” jelasnya.

Aulia menegaskan, nilai sejarah tersebut menjadi alasan penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk bersama-sama menjaga Kutai Kartanegara.

Ia juga berharap kemeriahan Erau Adat 2026 dapat menjadi penyemangat bagi Pemkab Kukar dalam melanjutkan pembangunan daerah.

“Kita wajib menjaga daerah kita dengan semangat Erau Adat 2026,” tegasnya.

Menurut Aulia, salah satu hal yang membuat pelaksanaan Erau tahun ini terasa istimewa adalah tingginya antusiasme masyarakat. Ia menyebut masyarakat terlihat menikmati seluruh rangkaian kegiatan yang telah disiapkan.

Hal tersebut, sesuai dengan tema Erau Adat Kutai 2026, yakni “Raja Menjamu Rakyatnya.”

“Kita sangat senang sekali melihat masyarakat menikmati Erau. Sesuai dengan tema kita, raja menjamu rakyatnya. Rakyat memiliki Erau ini sendiri,” ungkapnya.

Ia berharap semangat kebersamaan tersebut dapat terus dipertahankan dan menjadi bagian dari pelaksanaan Erau pada tahun-tahun berikutnya.

Sementara itu, Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) Basuki Hadimuljono yang turut hadir dalam prosesi tersebut mengatakan, Erau memiliki nilai yang kuat sebagai pemersatu antara pemimpin dan masyarakat.

Basuki menilai nilai-nilai budaya yang terkandung dalam Erau dapat menjadi inspirasi dalam pembangunan IKN, terutama agar pembangunan kota modern tetap berjalan dengan tidak meninggalkan budaya lokal.

“Ini adalah pemersatu antara pemimpin dan rakyatnya, antara pemimpin dan lingkungannya. Ini juga menginspirasi kami di IKN membangun kota yang cerdas dan futuristik, tapi tidak melupakan budaya lokalnya,” katanya.

Ia menyebut OIKN telah merencanakan pembangunan pusat kebudayaan Nusantara yang juga akan memuat kebudayaan Kutai Kartanegara.

Basuki juga menyampaikan adanya kemungkinan pelaksanaan Erau di kawasan IKN pada tahun-tahun mendatang. Namun, bentuk dan tata cara pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan karakter wilayah tersebut.

“Pak Sultan minta begitu. Mungkin tahun-tahun depan Tapi yang jelas Erau Asik,” Tuturnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Heriansyah menambahkan, prosesi Ulur Naga dan Belimbur menjadi puncak rangkaian Erau Adat Kutai 2026.

Menurutnya, pelaksanaan Erau tahun ini berlangsung lebih meriah dibandingkan tahun sebelumnya. Antusiasme masyarakat juga terlihat dari banyaknya warga yang hadir dan ikut memeriahkan prosesi adat tersebut.

“Hari ini hari puncaknya dari proses Erau, yaitu Belimbur dan Ulur Naga. Alhamdulillah, tahun ini lebih meriah daripada tahun kemarin,” katanya.

Ia menjelaskan, meskipun Ulur Naga dan Belimbur menjadi puncak rangkaian Erau, prosesi penutupan secara keseluruhan masih dilanjutkan dengan kegiatan merebahkan Tiang Ayu.

Heriansyah juga menyebut pelaksanaan Erau di wilayah lain, termasuk kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), pada dasarnya memungkinkan.

Hal itu mengingat sebagian wilayah IKN secara historis pernah menjadi bagian dari wilayah administrasi Kutai Kartanegara dan memiliki keterkaitan dengan Kesultanan Kutai Kartanegara.

Namun, ia menegaskan pelaksanaan Erau di wilayah lain dapat memiliki tata cara yang berbeda, menyesuaikan dengan konteks adat dan wilayah masing-masing.

“Kalau berbicara Erau, memungkinkan dilaksanakan, tetapi tata caranya yang berbeda. Karena yang kita lakukan di sini adalah tata cara yang memang dari Kesultanan Kutai Kartanegara,” jelasnya.

Ia menambahkan, kemungkinan pelaksanaan Erau di kawasan IKN dapat menjadi bagian dari upaya memperkenalkan dan mengembangkan budaya Kutai di wilayah tersebut, dengan tetap memperhatikan tata cara adat yang berlaku.

“Barangkali Erau di sana bisa saja, misalnya dengan bentuk dan tata cara yang disesuaikan,” ungkapnya.

Dengan kemeriahan pelaksanaan tahun ini, Heriansyah berharap Erau Adat Kutai dapat terus berkembang dan menjadi bagian penting dalam menjaga warisan budaya Kutai Kartanegara.

“Yang paling penting bagaimana kita terus menjaga nilai-nilai budaya dan adat yang ada, sehingga Erau ini bisa terus dilaksanakan dan dikenal oleh generasi berikutnya,” pungkasnya. (Adv/Van)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *