Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BALIKPAPAN

Penentuan Lebaran 2026 Bergantung Pengamatan di Aceh, Hilal Rendah di Balikpapan

196
×

Penentuan Lebaran 2026 Bergantung Pengamatan di Aceh, Hilal Rendah di Balikpapan

Share this article
1f5c2f82 8ba5 4ae3 b23f ce153fc6311c
Pemantauan Rukyatul Hilal Penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah, di Menara Masjid Mahdinatul Iman Balikpapan Islamic Center Balikpapan, pada hari Kamis, 19 Maret 2026. (Foto: Sulastri/Dutakaltimnews.com)
Example 468x60

BALIKPAPAN: Hasil pengamatan rukyatul hilal di Balikpapan menunjukkan posisi bulan sabit masih belum memenuhi kriteria visibilitas, sehingga penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah dipastikan akan sangat bergantung pada hasil pemantauan di wilayah barat Indonesia, khususnya Aceh.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Balikpapan, Masrivani, mengungkapkan bahwa ketinggian hilal di Balikpapan hanya mencapai 2 derajat. Angka ini masih berada di bawah standar kriteria MABIMS, yakni minimal 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat.

“Di Balikpapan masih 2 derajat, jadi ada kemungkinan terjadi perbedaan penetapan 1 Syawal,” ujarnya, saat ditemui usai Pemantauan Rukyatul Hilal Penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah, di Menara Masjid Mahdinatul Iman Balikpapan Islamic Center Balikpapan, pada hari Kamis, 19 Maret 2026.

Secara nasional, hasil perhitungan hisab yang dilakukan Kementerian Agama melalui Badan Hisab Rukyat menunjukkan bahwa posisi hilal di sebagian besar wilayah Indonesia masih berada di bawah kriteria tersebut. Namun, ada pengecualian di wilayah Aceh yang ketinggian hilalnya sudah mencapai sekitar 3 derajat, meski elongasinya baru sekitar 6,1 derajat.

Berdasarkan data hisab, lanjut Masrivani, awal Syawal diperkirakan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Meski demikian, keputusan resmi tetap menunggu hasil sidang isbat yang akan mempertimbangkan laporan rukyat dari berbagai titik pemantauan.

“Kita tunggu apakah ada yang benar-benar melihat hilal, khususnya di Aceh, dan apakah kesaksiannya bisa diterima. Itu yang akan diputuskan dalam sidang isbat,” jelasnya.

Ia menambahkan, potensi perbedaan dalam penetapan Lebaran merupakan hal yang wajar dalam praktik keagamaan, mengingat adanya perbedaan metode, baik hisab maupun rukyat.

Selaras dengan itu, Kepala Stasiun Geofisika Balikpapan (BMKG), Rasmid menyebut peluang terlihatnya hilal di Balikpapan sangat kecil. Selain ketinggian yang rendah, faktor cuaca juga menjadi kendala.

“Tinggi hilal di Balikpapan secara astronomi sekitar 2 derajat dengan elongasi 5 derajat, ditambah kondisi cuaca berawan, jadi kemungkinan teramati sangat kecil,” ujarnya.

BMKG melakukan pengamatan di dua titik, yakni di kawasan Balikpapan Islamic Center (BIC) dan wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN). Namun, secara umum wilayah tengah hingga timur Indonesia memang memiliki peluang lebih kecil untuk melihat hilal dibandingkan wilayah barat.

“Aceh, khususnya Sabang, menjadi titik kunci karena di sana ketinggian hilal sudah sekitar 3 derajat dengan elongasi mendekati 6 derajat, sehingga peluang terlihat lebih besar,” tambahnya.

f424032f 3f86 4e25 a16f 7c0a5da0752c

Ia juga menjelaskan bahwa fase konjungsi atau ijtimak penanda bulan baru telah terjadi pada Kamis pagi pukul 09.23 WITA, saat matahari, bulan, dan bumi berada pada satu garis lurus.

“Kita sudah masuk bulan baru secara astronomi tapi dalam rukyat harus ada pengamatan langsung. Kalau terlihat, maka besok Lebaran, jika tidak maka puasa digenapkan,” jelasnya.

Seluruh hasil pengamatan dari berbagai daerah akan dihimpun oleh Kementerian Agama untuk kemudian dibahas dalam sidang isbat. Pemerintah akan menetapkan secara resmi awal Syawal dengan mempertimbangkan aspek ilmiah dan syariat.

Masyarakat diimbau untuk menunggu keputusan resmi pemerintah, guna menjaga ketertiban dan persatuan dalam pelaksanaan Hari Raya Idulfitri, meskipun terdapat potensi perbedaan penetapan di sejumlah wilayah.(las)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *