KUKAR: Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mengungkapkan mayoritas kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang ditemukan di wilayah tersebut berasal dari kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL).
Pengelola Program HIV Dinkes Kukar, Masliana, mengatakan hingga Juni 2026 jumlah kumulatif kasus HIV di Kukar mencapai 524 kasus, meningkat dari 451 kasus pada 2025. Menurutnya, sebagian besar kasus yang ditemukan didominasi oleh laki-laki, terutama dari kelompok LSL.
“Kasus HIV yang kami temukan didominasi laki-laki, khususnya dari kelompok LSL. Karena itu, kelompok ini menjadi salah satu sasaran utama skrining dan layanan pencegahan,” ujarnya Kamis (9/7/2026).
Masliana menjelaskan, Dinkes Kukar menyediakan layanan profilaksis pra pajanan (PrEP) bagi kelompok berisiko yang telah dipastikan negatif HIV melalui pemeriksaan. Program tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mencegah penularan pada kelompok berisiko tinggi.
Sementara itu, Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufiddah, menegaskan peningkatan jumlah kasus bukan berarti terjadi lonjakan penularan semata. Data HIV bersifat kumulatif karena pasien yang telah terdiagnosis akan tetap tercatat dan menjalani pengobatan seumur hidup.
“Target kami bukan menurunkan angka kumulatif, tetapi menemukan kasus sedini mungkin agar pasien bisa segera diobati dan dipantau. Capaian penemuan kasus sesuai Standar Pelayanan Minimal sudah mencapai 100 persen,” katanya.
Ismi menambahkan, penanganan HIV juga dilakukan melalui pendampingan bersama LSM Mahakam Plus untuk memastikan pasien rutin mengonsumsi obat antiretroviral (ARV) serta menjalani pemeriksaan viral load secara berkala.
Ia juga mengajak masyarakat menghilangkan stigma terhadap orang dengan HIV (ODHIV) karena mereka tetap dapat hidup produktif selama menjalani pengobatan secara teratur.
Menurut Dinkes, keberhasilan pengendalian HIV tidak hanya bergantung pada layanan kesehatan, tetapi juga membutuhkan peran masyarakat dalam meningkatkan kesadaran, menghindari perilaku berisiko, serta mendukung upaya deteksi dini dan pengobatan berkelanjutan. (and)

















