KUKAR: Ruas jalan di pinggir Sungai Desa Batuq, Kecamatan Muara Muntai, Kutai Kartanegara, ambruk akibat longsor dan abrasi pada Kamis (6/8/2026) sekitar pukul 11.30 WITA. Longsor sepanjang kurang lebih 50 meter dengan kedalaman mencapai sekitar 8 meter itu mengakibatkan akses jalan penghubung antar kabupaten tidak lagi dapat dilalui.
Warga menduga longsor dipicu padatnya lalu lintas tongkang batu bara yang melintasi Sungai Batuq. Gelombang yang ditimbulkan kapal, ditambah kondisi air sungai yang sedang surut, diduga terus menggerus tebing hingga akhirnya badan jalan ambruk.
Kepala Desa Batuq, Suwandi, membenarkan peristiwa tersebut. Ia mengatakan longsor terjadi secara cepat dan memutus akses utama masyarakat.
“Longsornya terjadi sekitar pukul setengah 12 siang. Panjang jalan yang terdampak hampir 50 meter dengan kedalaman sekitar 8 meter. Jalan ini merupakan akses penghubung antar kabupaten,” ujar Suwandi kepada dutakaltimnews.com Kamis (6/8/2026).
Menurut Suwandi, kejadian serupa bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, longsor juga pernah terjadi di lokasi yang berjarak sekitar 100 meter dari titik kejadian saat ini.
Ia menjelaskan, konstruksi jalan berupa jembatan kayu yang permukaannya telah dicor. Namun, derasnya gerusan arus yang dipicu lalu lintas tongkang batu bara diduga mempercepat abrasi di bawah badan jalan.
“Diduga akibat padatnya lalu lintas tongkang batu bara. Saat tongkang melintas, arus sungai menggerus bagian bawah jalan hingga akhirnya longsor,” katanya.
Pemerintah desa telah melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kecamatan dan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara. Sebelumnya, lokasi longsor yang lama juga sempat ditinjau langsung oleh Bupati Kukar bersama anggota DPRD.
Akibat longsor ini, kendaraan tidak lagi dapat melintasi ruas jalan tersebut. Masyarakat terpaksa menggunakan jalur alternatif yang berjarak sekitar satu kilometer lebih jauh melalui jalan darat.
Kondisi ini turut berdampak terhadap aktivitas warga, terutama mobilitas pelajar dan masyarakat yang setiap hari bergantung pada akses tersebut.
“Sangat berpengaruh. Anak-anak sekolah harus memutar lebih jauh, begitu juga aktivitas masyarakat lainnya,” ungkap Suwandi.
Pemerintah desa berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan jembatan alternatif yang sebelumnya telah direncanakan agar akses masyarakat dapat kembali normal dan kejadian serupa tidak terus berulang.
“Kami berharap pemerintah lebih memperhatikan pembangunan jembatan alternatif agar masyarakat tidak terus terdampak setiap kali terjadi longsor,” tutupnya. (and)

















