BALIKPAPAN: Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Balikpapan pada Desember 2025 tercatat mengalami inflasi sebesar 0,71 persen (month to month/mtm). Meski demikian, secara tahunan, inflasi Kota Balikpapan sepanjang Januari–Desember 2025 tetap terjaga dalam batas aman.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Robi Ariadi, menyampaikan bahwa inflasi Balikpapan secara year on year (yoy) tercatat sebesar 2,71 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 2,92 persen, meski sedikit lebih tinggi dari rata-rata inflasi gabungan empat kota di Kalimantan Timur sebesar 2,68 persen.
“Capaian ini masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional tahun 2025, yakni 2,5 persen plus minus satu persen,” ujar Robi, pada hari Selasa, 6 Januari 2025 saat mengutip rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS).
Ia menjelaskan, inflasi Desember 2025 di Balikpapan terutama dipicu oleh kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil sebesar 0,37 persen (mtm). Lima komoditas utama penyumbang inflasi yakni angkutan udara, cabai rawit, ikan layang, bawang merah, dan daging ayam ras.
Kenaikan tarif angkutan udara disebabkan meningkatnya harga tiket penerbangan, khususnya rute Balikpapan–Surabaya dan Balikpapan–Makassar, seiring melonjaknya mobilitas masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Sementara itu, lonjakan harga cabai rawit dan bawang merah dipengaruhi terbatasnya pasokan dari daerah sentra produksi seperti Jawa, Sulawesi, dan Banjarmasin akibat curah hujan tinggi.
Kondisi serupa juga terjadi pada ikan layang yang pasokannya menurun karena gelombang laut tinggi. Adapun kenaikan harga daging ayam ras dipicu berkurangnya pasokan ayam beku dari Jawa dan ayam segar dari wilayah Balikpapan dan sekitarnya di tengah peningkatan permintaan menjelang Nataru.
Di sisi lain, tekanan inflasi tertahan oleh deflasi pada kelompok Pakaian dan Alas Kaki dengan andil 0,02 persen (mtm). Beberapa komoditas hortikultura seperti kacang panjang, tomat, ketimun, dan buncis, serta udang basah, mengalami penurunan harga seiring meningkatnya pasokan lokal dan stabilnya permintaan.
Menghadapi awal 2026, BI Balikpapan mencermati sejumlah risiko yang berpotensi memengaruhi inflasi, di antaranya puncak musim hujan, gelombang laut tinggi, serta potensi banjir di Balikpapan, Penajam Paser Utara (PPU), dan daerah sentra produksi.
Selain itu, meningkatnya permintaan menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026 juga berpotensi mendorong tekanan harga jika tidak diimbangi dengan pasokan yang memadai.
Namun demikian, Robi menegaskan bahwa kondisi daya beli masyarakat Balikpapan masih menunjukkan sinyal positif. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Desember 2025 yang berada pada level 122,7, masih dalam kategori optimis (di atas 100), meski sedikit menurun dibandingkan November 2025.
Optimisme tersebut juga diperkuat oleh pertumbuhan transaksi QRIS di Balikpapan yang tetap tinggi, yakni 100,85 persen (yoy) pada November 2025, menandakan aktivitas ekonomi dan konsumsi masyarakat masih solid.
“Sinergi TPID bersama pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan terbukti efektif dalam menjaga inflasi Balikpapan tetap terkendali,” jelas Robi.
Ke depan, BI Balikpapan bersama Pemerintah Daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus memperkuat langkah pengendalian inflasi melalui pemantauan harga pangan, operasi pasar, kerja sama antar daerah, pemanfaatan lahan pekarangan, hingga penguatan pasokan pangan strategis.
“Bank Indonesia berkomitmen menjaga inflasi daerah tetap berada dalam sasaran nasional 2026, serta mendukung keberlanjutan program pengendalian inflasi daerah secara konsisten dan terukur,” pungkasnya.(las)

















