KUKAR : Dalam upaya memperkuat geliat pariwisata lokal, Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menyoroti peran penting desa dalam menyelenggarakan festival budaya. Plt. Kepala Bidang Pemasaran Dispar Kukar, Awang Ivan Ahmad, menyatakan bahwa festival budaya di desa tidak sepenuhnya harus mengandalkan dana dari pemerintah daerah.
Menurut Ivan, jika suatu acara sudah menjadi agenda rutin tahunan dan memiliki nilai budaya yang kuat, maka festival tersebut layak untuk dikurasi dan dimasukkan ke dalam kalender event resmi daerah.
“Penting untuk melihat keberlanjutan dan kekuatan identitas budaya dari acara tersebut. Jika memenuhi kriteria, pemerintah akan lebih mudah memberikan dukungan,” ujarnya Minggu (4/5/2025).
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pendanaan festival desa dapat bersumber dari berbagai pihak. Selain dari dana desa atau kecamatan, dukungan juga bisa datang dari sumber mandiri, termasuk sponsor perusahaan swasta yang berada di sekitar wilayah desa tersebut.
“Kita tidak bisa terus bergantung pada dana pemerintah. Kolaborasi adalah kunci,” tambahnya.
Contoh sukses dari inisiatif mandiri tersebut adalah Festival Seni di Desa Kota Bangun III yang sepenuhnya dibiayai oleh dana desa. Acara ini berhasil menarik perhatian masyarakat lokal dan wisatawan, serta menjadi agenda budaya yang dinantikan setiap tahunnya.
Selain itu, Festival Nutuk Beham di Desa Kedang Ipil juga menjadi bukti konkret bagaimana semangat gotong royong dan dukungan lokal bisa menciptakan acara budaya yang meriah. Festival ini bahkan mulai dilirik sebagai salah satu potensi unggulan pariwisata desa di Kukar.
Ivan juga menyoroti peran perusahaan lokal yang seringkali memiliki program CSR atau kegiatan sendiri. Menurutnya, sinergi antara desa dan perusahaan swasta bisa menjadi jalan tengah yang saling menguntungkan.
Dengan pendekatan tersebut, Dinas Pariwisata Kukar mendorong agar desa-desa semakin kreatif dan mandiri dalam mengelola potensi budaya yang dimiliki. Pemerintah daerah, imbuhnya, siap memberikan dukungan dalam bentuk promosi dan fasilitasi.
“Kami berencana untuk memperkuat pendataan dan kurasi acara budaya desa agar bisa masuk dalam kalender tahunan resmi. Dengan begitu, festival-festival di desa bisa naik kelas menjadi daya tarik wisata yang berkelanjutan dan berdampak ekonomi langsung bagi masyarakat.” pungkasnya (Adv/dk)

















