BALIKPAPAN: Perubahan peta destinasi wisata di Kalimantan Timur (Kaltim) mulai menunjukkan dampaknya. Pada momen libur Idulfitri 1447 Hijriah, jumlah pengunjung Kebun Raya Balikpapan (KRB) tercatat menurun dibandingkan tahun sebelumnya.
Koordinator Pengelola Informasi Kawasan UPTD KRB, Rilvia Wulandari, menyebut penurunan ini salah satunya dipengaruhi munculnya destinasi baru yang menarik perhatian masyarakat, termasuk kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Kalau dibandingkan tahun lalu, jumlah pengunjung memang lebih banyak. Mungkin karena daya tarik IKN sudah dibuka, jadi pengunjung terbagi,” ujarnya, Rabu (25/3/2026).
Data sementara menunjukkan, pada hari kedua Lebaran jumlah pengunjung hanya sekitar 60 orang. Hingga sore hari, total kunjungan baru mencapai sekitar 110 orang angka yang relatif rendah untuk periode libur panjang.
Kondisi ini juga dipengaruhi oleh operasional KRB yang tutup pada hari pertama Lebaran. Meski begitu, pengelola tetap optimistis tren kunjungan akan meningkat pada hari-hari berikutnya.
Di tengah penurunan jumlah pengunjung, KRB masih mengandalkan beragam daya tarik yang dimilikinya. Tercatat ada sembilan spot unggulan, mulai dari koridor kantong semar, taman tanaman obat, taman estetika, hingga Orchidarium rumah anggrek modern seluas 1,5 hektare yang dilengkapi jalur jogging.
“Orchidarium masih jadi favorit. Pengunjung bisa melihat berbagai jenis anggrek sekaligus menikmati suasana alam,” jelas Rilvia.
Tak hanya wisata alam, KRB juga terus mengembangkan konsep wisata edukasi. Berbagai program seperti trekking, wisata flora, hingga kegiatan menanam disiapkan, termasuk pemanfaatan teknologi digital untuk menunjang pembelajaran, khususnya bagi pelajar.
Di sisi lain, target pendapatan tetap dikejar. Hingga Februari 2026, realisasi retribusi telah mencapai sekitar Rp106 juta, dengan target tahunan berkisar Rp350 juta hingga Rp400 juta.
“Kami tetap optimistis target bisa tercapai karena masih banyak momentum kunjungan ke depan,” ungkapnya.
Fenomena ini menjadi sinyal bahwa lanskap pariwisata di Balikpapan dan sekitarnya mulai berubah. Kehadiran IKN bukan hanya membawa peluang baru, tetapi juga memicu persaingan destinasi, menuntut pengelola wisata lama untuk terus berinovasi agar tetap menjadi pilihan. (las)

















