BALIKPAPAN: Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan melalui Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) mulai menata ulang strategi pembinaan olahraga dengan pendekatan berbasis data. Langkah ini diambil untuk memperkuat arah pembinaan atlet dari usia dini hingga tingkat profesional, sekaligus memastikan program pengembangan olahraga di kota ini berjalan lebih terukur.
Kepala Disparpora Balikpapan, C.I. Ratih Kusuma, menegaskan bahwa ke depan pihaknya akan mewajibkan seluruh Cabang Olahraga (Cabor) di bawah naungan Disparpora, untuk memiliki database atlet yang valid dan target pembinaan tahunan yang jelas.
“Kami minta semua cabor menyusun target pembinaan setiap tahun dan memiliki data atlet yang lengkap. Dengan begitu, kami bisa melakukan evaluasi dan memberikan dukungan yang lebih tepat sasaran,” ujarnya, Jumat (17/10/2025).
Ratih menilai, pembinaan olahraga di Balikpapan selama ini sudah berjalan baik, namun masih perlu diperkuat dengan sistem manajemen data dan perencanaan yang terintegrasi. Dengan 66 cabor aktif dan 4 badan fungsional, total 70 organisasi olahraga kini berada di bawah koordinasi Disparpora.
“Semua cabor sebenarnya punya potensi dan prestasi, hanya saja ada perbedaan tingkat keaktifan. Cabor yang sering mengikuti event, baik lokal maupun nasional, biasanya prestasinya lebih terlihat,” tambahnya.
Selain penataan data, Disparpora juga menyiapkan pembinaan berjenjang sejak usia dini. Setiap event olahraga yang digelar Pemkot Balikpapan kini wajib melibatkan kategori anak-anak, seperti turnamen bulu tangkis, push bike, dan mini fun football yang digelar saat peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas).
“Pembinaan atlet tidak bisa instan. Harus dimulai dari usia dini, karena di situ fondasi karakter dan semangat kompetitif terbentuk,” jelas Ratih.
Disparpora juga tengah mendorong agar setiap cabor tidak hanya aktif mengikuti kejuaraan, tetapi juga menjadi penyelenggara event olahraga lokal maupun regional. Menurut Ratih, hal ini akan menciptakan ekosistem olahraga yang lebih hidup di Balikpapan serta membuka ruang kompetisi bagi atlet muda.
Lebih jauh, prestasi olahraga kini juga menjadi bagian dari indikator pembangunan daerah. Ratih menyebut bahwa capaian atlet Balikpapan turut menentukan penilaian Arindama, yang sebelumnya dikenal dengan Panji Pembangunan Olahraga.
“Balikpapan pernah meraih Panji terbaik satu berkat prestasi atlet. Ke depan, kami ingin kembali ke posisi itu, karena prestasi olahraga bukan hanya soal medali, tapi juga kebanggaan daerah,” tegasnya.
Sebagai bentuk dukungan, Disparpora terus memfasilitasi atlet-atlet yang berlaga di berbagai level, mulai dari Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) hingga Pekan Olahraga Nasional (PON). Ajang-ajang ini, kata Ratih, menjadi jalur strategis bagi atlet Balikpapan untuk melangkah ke tim nasional dan bahkan ke kompetisi internasional.
“Jenjangnya sudah jelas: dari praporprov ke Porprov, lalu PON. Setelah itu bisa masuk timnas dan kejuaraan internasional. Itu yang kami bangun secara sistematis,” pungkasnya.(las)

















