KUKAR : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara, terus mendorong pembinaan dan melestarikan budaya tutur bahasa Kutai dengan cara menggunakan bahasa sehari-hari atau di acara tertentu. Seperti pada acara kolosal bekesah dalam bahasa Kutai pada Pemilihan Duta Budaya.
Penampilan yang ditampilkan menurutnya sangat menarik dan membuktikan bahwa budaya tutur dalam bahasa daerah masih sangat relevan di tengah masyarakat.
“Bahasa Kutai sebenarnya sudah menjadi muatan lokal di sekolah-sekolah, dan pembiasaan penggunaan bahasa ini perlu terus ditingkatkan,” ujarnya.
Thauhid juga mengungkapkan tantangan pelestarian bahasa Kutai, terutama di wilayah-wilayah yang memiliki dominasi etnis lain.
“Kami menyadari bahwa di beberapa wilayah, dominasi suku lain membuat bahasa Kutai tidak digunakan secara luas. Namun, dengan adanya kegiatan seperti tadi, masyarakat diingatkan kembali tentang kekayaan budaya ini,” jelasnya.
Thauhid mengakui bahwa masih banyak masyarakat, termasuk generasi muda, yang belum terlalu fasih dalam berbahasa Kutai. Karena itu, menurutnya penting untuk menciptakan lebih banyak ruang dan kesempatan agar bahasa ini digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya pribadi sering menggunakan bahasa Kutai dalam setiap kegiatan sebagai bagian dari upaya pembiasaan,” ucapnya.
Upaya pembinaan bahasa Kutai ini, tidak hanya akan berfokus pada kegiatan seremonial, tetapi juga menyasar aspek kurikulum dan pembelajaran.
“Pembinaan seperti ini ke depan akan terus didorong, termasuk penguatan muatan lokal bahasa Kutai di sekolah-sekolah,” tambahnya.
Ia menyebutkan bahwa saat ini program muatan lokal bahasa Kutai sudah berjalan sekitar 60 persen di sekolah-sekolah di Kukar. Namun, penguatan program ini tetap menjadi prioritas agar cakupannya bisa lebih merata dan efektif.
“Kami akan terus melengkapinya dengan kajian dan pendekatan tambahan agar program ini tidak sekadar formalitas, tapi benar-benar membekas dan menghidupkan kembali penggunaan bahasa Kutai,” tegasnya.
Thauhid berharap masyarakat Kukar, terutama generasi muda, dapat kembali mengenal dan mencintai bahasa daerah mereka sendiri sebagai bagian dari identitas dan warisan budaya yang harus dijaga bersama. (Adv/dk)

















