KUKAR: Pemkab Kutai Kartanegara (Kukar) mulai memprioritaskan pemulihan kebutuhan dasar warga terdampak kebakaran di Jalan AM Alimuddin, RT 33, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong.
Salah satu perhatian utama adalah memastikan anak-anak korban kebakaran kembali memiliki seragam, sepatu dan perlengkapan sekolah setelah seluruhnya hangus terbakar.
Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri mengatakan, proses pemulihan atau recovery bagi masyarakat terdampak dilakukan secara bertahap, mulai dari kebutuhan jangka pendek hingga penataan kawasan untuk jangka menengah dan panjang.
Untuk tahap awal, Pemkab Kukar memastikan aktivitas sehari-hari masyarakat dapat kembali berjalan. Terutama bagi anak-anak yang terdampak dan harus kembali bersekolah setelah kehilangan berbagai perlengkapan akibat kebakaran.
“Jangka pendek adalah kita memastikan bahwa proses aktivitas sehari-hari warga masyarakat kita itu tidak terganggu. Bagi yang bersekolah, itu perlengkapan sekolahnya terpenuhi,” katanya, Kamis (8/10/2036).
Selain kebutuhan sekolah, pemerintah juga berupaya memastikan masyarakat yang bekerja tetap dapat menjalankan aktivitasnya dengan memenuhi kebutuhan maupun perlengkapan pekerjaan yang terdampak akibat kebakaran.
Menurut Aulia, pihaknya telah meminta jajaran pemerintah di tingkat kecamatan dan kelurahan untuk melakukan langkah-langkah yang diperlukan agar warga dapat kembali menjalani kegiatan sehari-hari.
“Itu yang kami perintahkan kemarin. Sehingga kepada Plt Camat dan Pak Lurah untuk melakukan upaya-upaya sehingga warga masyarakat kita bisa melaksanakan kegiatan,” ujarnya.
Sementara untuk jangka menengah dan panjang, Pemkab Kukar akan melakukan pemulihan sesuai dengan kewenangan pemerintah daerah. Salah satu perhatian utama adalah penataan kawasan permukiman terdampak agar penanganan terhadap kejadian serupa dapat dilakukan lebih optimal apabila kembali terjadi di kemudian hari.
Aulia menyebut, akses jalan menjadi salah satu persoalan yang ditemukan dalam proses pemadaman kebakaran sebelumnya. Kondisi tersebut membuat kendaraan pemadam kebakaran mengalami kesulitan untuk menjangkau lokasi.
“Termasuk kita berusaha untuk menata daerah ini sehingga ketika ada hal-hal yang tidak diinginkan kemudian hari terjadi, kita sudah bisa melakukan penanganan sebagaimana mestinya,” jelasnya.
Ia menambahkan, kondisi akses yang terbatas turut memengaruhi proses pemadaman. Kendaraan pemadam kebakaran disebut mengalami kendala untuk masuk ke kawasan permukiman karena akses jalan yang tidak memadai.
“Kalau kayak kemarin karena misalnya jalanan tidak ada, mobil pemadam kebakaran agak susah untuk masuk ke dalam dan lain sebagainya. Sehingga proses penanganan itu tidak bisa berjalan dengan optimal,” ungkapnya.
Ia mengatakan, berdasarkan laporan dari pihak pemadam kebakaran, proses pemadaman dalam kondisi normal umumnya dapat dilakukan kurang dari 30 menit. Namun, dalam kejadian kebakaran di kawasan tersebut, proses pemadaman berlangsung hingga sekitar dua jam.
“Biasanya pada umumnya bisa memadamkan api kurang dari 30 menit. Nah kemarin itu sampai dua jam itu pemadaman baru bisa dilakukan atau diselesaikan,” tuturnya.
Di sisi lain, salah satu warga terdampak kebakaran, Iin, mengatakan kebutuhan yang paling mendesak saat ini adalah perlengkapan sekolah bagi anak-anak. Ia mengaku saat kebakaran terjadi hanya sempat menyelamatkan diri tanpa membawa barang-barang dari rumah.
“Yang sangat kami perlukan itu perlengkapan anak-anak sekolah, karena saya keluar cuma diri saja, menyelamatkan diri saja. Jadi apa pun tidak ada, perlu perlengkapan sekolah semuanya, seragam, sepatu, alat-alat tulis dan semuanya,” katanya.
Tidak hanya perlengkapan sekolah, sejumlah dokumen penting milik warga juga ikut hangus dalam kebakaran tersebut. Ijazah dan berbagai surat berharga lainnya menjadi barang yang tidak sempat diselamatkan.
“Hangus terbakar semua. Ijazah-ijazah juga semuanya habis,” ungkapnya.
Iin berharap pemerintah dapat membantu proses pengurusan kembali berbagai dokumen yang hilang akibat kebakaran. Ia meminta agar warga terdampak diberikan kemudahan dalam mengurus dokumen pengganti.
“Kami berharap untuk pengurusan surat-surat itu dipermudah, tidak dipersulit. Karena memang ini di luar kendali kami, bukan keinginan kami untuk kejadian seperti ini,” pungkasnya. (Adv/Van)

















