KUKAR : Kegiatan Bepelas menjadi salah satu rangkaian ritual sakral pada Erau Adat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura tahun 2025. Acara ini berlangsung di Keraton Kesultanan atau Museum Mulawarman Tenggarong, dan diikuti oleh kerabat kesultanan serta perwakilan pemerintah daerah.
Perwakilan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Muhammad Saidar, menjelaskan bahwa Bepelas merupakan prosesi pembersihan diri secara lahir dan batin bagi Sultan sebelum memimpin rangkaian upacara adat Erau.
“Pelas ini adalah bagaimana Sultan membersihkan raga sukmanya agar ketika menjalankan ritual tetap kuat, tidak terganggu oleh hal-hal gaib yang dapat mengganggu jalannya upacara,” ungkapnya Jumat (26/9/2025).
Ritual Bepelas dilaksanakan hampir setiap malam selama Erau, kecuali pada malam Jumat yang dikhususkan untuk pembacaan doa dan zikir di dalam keraton.
“Setiap malam itu ada ritual pelas, hanya malam Jumat yang libur karena Sultan membaca berjanji atau hadrah,” tambah Saidar.

Prosesi Bepelas wajib diikuti kerabat kesultanan, mulai dari pangeran, raden, bambang, hingga demung, serta perangkat adat lainnya. Selain itu, pemerintah daerah juga turut diundang sebagai bentuk sinergi antara kesultanan dan pemerintah. Pada momen ini Sultan bersama kerabat dan pejabat memegang tali juwita dan tali cinde sebagai simbol keterikatan.
Sebelum memasuki ritual inti Bepelas, terdapat rangkaian pendahuluan seperti merangin, dewa memanah, dewa mengelilingi ayu, hingga ganjur. Setelah itu, barulah Sultan melaksanakan Bepelas. Pada malam terakhir, ritual ditutup dengan prosesi Seluang Mudik berupa tabur beras yang dilakukan Sultan, kerabat, dan undangan.
“Seluang Mudik ini adalah ungkapan syukur Sultan kepada rakyatnya,” ujar Saidar.
Selain tabur beras, dalam Seluang Mudik juga terdapat sajian khas berupa “buah-buah”, yakni makanan tradisional seperti ketan, tumpi, dan jajak getas. Tradisi ini memiliki makna sebagai bentuk doa keselamatan dan kemakmuran bersama. Disertakan pula prosesi isi lembu suana, yaitu pemberian uang oleh Sultan dan kerabat kepada para belian yang telah memimpin ritual selama Erau berlangsung.

Lebih lanjut, Saidar menjelaskan bahwa setiap malam dalam prosesi Bepelas ditandai dengan “ledakan” tertentu sebagai simbolisasi tahapan pembersihan sukma.
“Malam pertama satu ledakan, malam kedua dua ledakan, dan seterusnya. Itu menandakan tahapan ritual yang dijalankan Sultan untuk menguatkan auranya sebagai pemimpin,” jelasnya.
Ritual Bepelas ini dilaksanakan oleh masyarakat adat Kedang Ipil melalui para belian sebagai pelaksana upacara. Dalam prosesi merangin, para belian mengundang roh halus atau sangiyang sebagai bentuk komunikasi spiritual agar upacara keraton berlangsung dengan lancar.
“Itu adalah bentuk penghormatan kepada dunia gaib yang diyakini turut menjaga jalannya upacara sakral,” pungkas Saidar. (Adv/and)

















