KUKAR: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) berkomitmen menjaga keberlangsungan Gerakan Etam Mengaji Al-Qur’an (GEMA) sebagai upaya memperkuat karakter, moral, dan watak aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan pemerintahan.
Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, mengatakan GEMA merupakan gerakan positif yang telah lama berjalan di Kukar dan perlu terus dipertahankan. Program tersebut dinilai memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan sekaligus membangun kepribadian ASN dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pelayan masyarakat.
Menurutnya, keberadaan GEMA tidak sekadar menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga bagian dari upaya membentuk aparatur yang memiliki landasan moral dan karakter yang baik. Karena itu, kesinambungan program tersebut perlu mendapat perhatian agar manfaatnya tetap dirasakan di lingkungan Pemkab Kukar.
“GEMA merupakan gerakan yang sangat baik dan sudah berjalan cukup lama di Kabupaten Kutai Kartanegara. Ini harus kita kawal keberlangsungannya karena merupakan salah satu cara untuk menjaga karakter dan membangun watak para ASN di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara,” ujarnya, Jumat (24/10/2026).
Ia menjelaskan, upaya membangun karakter melalui pemahaman agama sebelumnya juga diterapkan dalam persyaratan bagi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Pegawai beragama Islam diwajibkan memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an ketika mengambil atau memperpanjang surat keputusan (SK).
Sementara itu, bagi pegawai beragama Kristen dan Katolik, kemampuan membaca kitab suci juga menjadi perhatian. Begitu pula dengan pegawai yang memeluk agama lain, yang diarahkan untuk memahami hal-hal pokok dalam ajaran agama masing-masing.
“Dulu, kita ingat ketika PPPK akan mengambil atau memperpanjang SK, mereka disyaratkan harus bisa mengaji bagi yang beragama Islam. Bagi yang beragama Kristen dan Katolik, harus bisa membaca kitab suci. Begitu juga dengan hal-hal pokok dalam agama-agama lainnya sesuai dengan agama masing-masing,” jelasnya.
Ia menegaskan, kebijakan dan program positif yang telah dirintis oleh pemimpin terdahulu harus menjadi tanggung jawab bersama untuk dilanjutkan. Menurutnya, pergantian kepemimpinan tidak boleh membuat program yang membawa manfaat bagi pembinaan karakter justru terhenti.
Keberlanjutan GEMA diharapkan dapat memperkuat budaya religius di lingkungan pemerintahan sekaligus mendorong ASN agar memiliki integritas, kedisiplinan, dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas pelayanan publik.
Ia menambahkan, menjaga program yang sudah berjalan dengan baik merupakan bagian dari tanggung jawab kepemimpinan. Dengan komitmen bersama, nilai-nilai positif yang telah dibangun di Kukar dapat terus dipertahankan dan dikembangkan.
“Ini merupakan tanggung jawab kita yang melanjutkan kepemimpinan untuk menjaga keberlangsungan hal-hal baik yang sudah dilakukan oleh pemimpin-pemimpin terdahulu di Kabupaten Kutai Kartanegara,” pungkasnya. (Adv/Van)

















