KUKAR: Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus menggencarkan sosialisasi ke sekolah-sekolah untuk mencegah pelajar bolos sekolah serta meningkatkan kedisiplinan anak didik.
Langkah ini juga membutuhkan kerja sama antara pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat dalam mengawasi aktivitas anak, baik saat berada di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.
Kepala Satpol PP Kukar, Arfan Boma Pratama melalui Kepala Bidang Penegakan Produk Hukum Daerah (PPHD) Satpol PP Kukar, Rasidi, mengatakan sosialisasi ke sekolah menjadi salah satu upaya untuk memberikan pemahaman kepada pelajar sekaligus mendorong terbentuknya karakter generasi muda yang lebih baik.
Menurutnya, pembinaan terhadap anak sekolah tidak bisa hanya dibebankan kepada pihak sekolah maupun pemerintah. Peran orang tua dalam mengawasi kegiatan anak sehari-hari juga sangat penting, mulai dari keberangkatan ke sekolah hingga kembali ke rumah.
“Kami dari Satpol PP juga gencar melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah yang ada di Kukar. Kami mengimbau kepada orang tua agar tetap melakukan pengawasan dan monitoring terhadap anak-anaknya dalam kegiatan bersekolah. Dari mereka berangkat sampai pulang sekolah, tetap harus dipantau, jangan diabaikan,” ujarnya, Sabtu (10/10/2025).
Ia menekankan pentingnya komunikasi yang baik antara orang tua dan pihak sekolah. Dengan komunikasi yang terjalin secara intensif, perkembangan anak dapat dipantau bersama sehingga apabila muncul persoalan, penyelesaiannya bisa dilakukan melalui koordinasi dan pembinaan.
Rasidi menilai, pengawasan terhadap anak perlu dilakukan secara bersama-sama tanpa saling menyalahkan ketika terjadi permasalahan.
Sebab, perilaku anak dapat dipengaruhi berbagai faktor yang membutuhkan perhatian dan penanganan secara tepat.
“Artinya, orang tua tetap harus bekerja sama dan berkomunikasi dengan pihak sekolah. Jadi, jangan sampai ketika ada masalah, kemudian saling menyalahkan. Dari kami, tetap mengedepankan sisi pembinaan kepada anak didik,” katanya.
Ia menjelaskan, pendekatan dalam membina anak saat ini perlu menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
Menurutnya, tindakan keras bukan menjadi satu-satunya cara untuk mendisiplinkan pelajar. Pendekatan persuasif melalui komunikasi dari hati ke hati dinilai lebih penting untuk memahami persoalan yang dihadapi anak.
Karena itu, setiap permasalahan yang melibatkan pelajar perlu dilihat secara menyeluruh. Anak-anak tidak hanya membutuhkan teguran, tetapi juga pendampingan agar penyebab munculnya perilaku tertentu dapat diketahui dan ditangani dengan baik.
“Sekarang bukan zamannya lagi seperti zaman dahulu yang harus dipukul. Zaman sudah berbeda, sehingga lebih banyak menggunakan pendekatan persuasif dan hati ke hati. Kita harus memahami apakah ada faktor tertentu yang memengaruhi anak-anak tersebut,” jelasnya.
Lebih lanjut, Rasidi menyebutkan, komunikasi antara orang tua dan sekolah saat ini semakin terbantu dengan adanya grup WhatsApp yang dimiliki masing-masing wali kelas.
Fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan untuk bertukar informasi mengenai aktivitas, perkembangan, hingga kondisi anak selama mengikuti kegiatan pendidikan.
Menurutnya, komunikasi melalui grup tersebut perlu dimanfaatkan secara maksimal agar pengawasan tidak hanya dilakukan ketika anak berada di sekolah, tetapi juga berlanjut di lingkungan keluarga.
Ia mengajak seluruh orang tua dan masyarakat untuk lebih peduli terhadap pergaulan serta aktivitas anak-anak di lingkungan masing-masing.
Pengawasan yang disertai perhatian dan pembinaan diharapkan mampu mencegah munculnya berbagai persoalan sekaligus membentuk mental generasi muda yang lebih positif.
“Anak-anak ini adalah generasi kita ke depan. Kalau tidak dibina dari sekarang, mau jadi apa nantinya. Yang terpenting, bagaimana kita bersama-sama membentuk mental generasi ini agar lebih baik ke depannya,” pungkasnya. (Adv/Van)

















