Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
NASIONAL

Mentan Amran Gaspol Bioetanol, 2 Juta Hektare Tebu, Singkong, Jagung untuk Kemandirian Energi

214
×

Mentan Amran Gaspol Bioetanol, 2 Juta Hektare Tebu, Singkong, Jagung untuk Kemandirian Energi

Share this article
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. (Dok. Menteri Kehutanan Republik Indonesia)
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. (Dok. Menteri Kehutanan Republik Indonesia)
Example 468x60

JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) mulai menggerakkan pengembangan bioetanol berbasis tiga komoditas utama, yakni tebu, ubi kayu atau singkong, dan jagung. Pemerintah menyiapkan pengembangan lahan hingga 2 juta hektare sebagai fondasi pembangunan industri bioetanol nasional sekaligus langkah memperkuat kemandirian energi.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan pengembangan bioetanol tidak cukup hanya dengan membangun pabrik. Pemerintah terlebih dahulu memastikan ketersediaan bahan baku melalui pengembangan kawasan pertanian dalam skala besar dan terintegrasi dengan industri pengolahan.

“Etanol ini butuh lahan 1 sampai 2 juta hektare dengan tiga komoditas strategis. Insyaallah kita akan bangun pabriknya, kita gerakkan masif seluruh Indonesia,” ujar Mentan Amran usai memimpin Rapat Program Khusus Pengembangan Bioetanol bersama 44 bupati dari sejumlah daerah di Jakarta, Senin (21/9).

Tiga komoditas tersebut akan dikembangkan sesuai potensi masing-masing daerah. Tebu menjadi salah satu fokus utama karena memiliki potensi besar sebagai bahan baku bioetanol, sementara singkong dan jagung akan dikembangkan di wilayah yang memiliki kesesuaian lahan dan produktivitas tinggi.

“Ini cetak tebu, tanam tebu, tanam ubi, tanam jagung. Kita jadikan etanol,” tegas Mentan Amran.

Menurut Mentan Amran, kepastian bahan baku merupakan fondasi penting untuk menarik investasi industri bioetanol. Karena itu, pemerintah akan melakukan konsolidasi lahan dan menyiapkan kawasan produksi sebelum pembangunan industri dilakukan secara masif.

Ia memperkirakan pembiayaan pembangunan industri dapat melibatkan BUMN dan swasta. Pemerintah akan mengambil peran dalam penyiapan kawasan, sementara investasi industri dapat diperkuat melalui keterlibatan sektor swasta.

“Anggarannya mungkin 30 persen dari BUMN, 70 persen dari swasta dan pasti swasta mau karena tanahnya disiapkan oleh negara,” ungkapnya.

Mentan Amran menegaskan pengembangan bioetanol juga harus memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Karena itu, pemerintah akan mendorong skema kemitraan agar masyarakat ikut menjadi bagian dari pertumbuhan kawasan pertanian dan industri yang dibangun.

“Ini tidak boleh monopoli, minimal 30 persen rakyat. Jadi rakyat menikmati. Sekarang nggak boleh di bawah 20, harus 30 persen untuk rakyat. Harus tumbuh bersama kalau negara mau kuat,” tegas Mentan Amran.

Pemerintah juga mendorong keterlibatan pengusaha daerah sehingga pengembangan bioetanol tidak hanya menciptakan industri, tetapi sekaligus membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah.

Dalam tahap awal, Kementan akan memperkuat pengembangan jagung melalui percontohan di daerah yang menyatakan kesiapan. Mentan Amran menyebut dukungan awal dapat diberikan dengan luasan 500 hingga 1.000 hektare per kabupaten dan diperluas hingga 1.500 hektare bagi daerah yang menunjukkan hasil produksi baik.

“Nanti kita lihat hasilnya. 1.000 hektare untuk setiap bupati yang datang. Kita lihat jagungnya yang tanamannya bagus, produksinya tinggi, saya akan tambah di Januari, tambah luasan jagung,” jelasnya.

Dukungan berupa alat dan mesin pertanian (alsintan) juga akan disiapkan untuk memperkuat produktivitas dan mempercepat pengembangan kawasan. Sementara untuk tebu, pemerintah menyiapkan pengembangan dalam skala yang lebih besar.

“Yang paling penting adalah tebu. Kita butuh 1 juta hektare. Tadi sudah dihadiri oleh Pak Dirjen dari Kehutanan Planologi, kemudian Deputi dari BUMN. Kita akan bergerak bersama,” ujar Mentan Amran.

Dalam penyiapan lahan, pemerintah akan mengutamakan kawasan yang sesuai secara teknis dan memiliki kepastian legalitas. Mentan Amran menegaskan pengembangan bioetanol tidak dilakukan dengan mengabaikan aspek lingkungan.

Pemerintah akan terlebih dahulu mengkaji berbagai sumber lahan yang tersedia, termasuk kawasan yang dapat diarahkan untuk agroforestri atau tanaman pangan serta lahan yang telah dilepaskan. Pelepasan kawasan hutan menjadi pilihan terakhir.

“Pokoknya kita jaga lingkungan, tetapi kita juga menjadi swasembada energi atau berdaulat energi,” katanya.

Mentan Amran mengatakan pengembangan bioetanol pada akhirnya bukan hanya tentang menghasilkan bahan bakar alternatif, tetapi juga membangun rantai ekonomi baru dari sektor pertanian. Mulai dari budidaya komoditas, pengolahan hasil, pembangunan industri hingga aktivitas ekonomi masyarakat akan bergerak dalam satu ekosistem.

“Kalau ini terjadi, minimal itu 8 juta tenaga kerja tercipta dan tenaga kerja permanen. Hebat kan? Hebat Indonesia itu,” ujarnya.

Pengembangan bioetanol juga diarahkan untuk meningkatkan bauran etanol dalam bahan bakar secara bertahap. Pemerintah menargetkan peningkatan penggunaan etanol seiring kesiapan bahan baku dan industri.

“Ini E5, E10, E20 di 2029. Bisa perkiraan kita menuju nanti, bisa kita hitung ya, kalau kita bergerak dari sekarang itu bisa E40 2030, 2031,” ungkap Mentan Amran.

Untuk mempercepat realisasi program, Kementan menggandeng 44 bupati dari berbagai daerah dalam konsolidasi pengembangan kawasan. Pemerintah daerah diharapkan memetakan potensi lahan, komoditas, serta kesiapan wilayah untuk menjadi bagian dari rantai pasok bioetanol nasional.

Mentan Amran menegaskan pengembangan bioetanol merupakan bagian dari agenda besar pemerintah dalam memperkuat kedaulatan energi dengan memanfaatkan kekuatan sektor pertanian dalam negeri.

“Intinya adalah bagaimana kita berdaulat energi, pangan, protein. Insyaallah Indonesia menjadi negara besar, negara superpower ke depan,” pungkasnya.

 

(Sumber: pertanian.go.id)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *