KUKAR: Nuansa sakral terasa di Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura saat prosesi Beluluh Sultan digelar, Kamis (17/9/2026).
Ritual adat yang telah diwariskan selama berabad-abad ini menjadi salah satu rangkaian penting menjelang Erau Adat Kutai 2026, sekaligus menjadi simbol penyucian diri dan doa agar Sultan diberikan kekuatan lahir dan batin selama menjalani seluruh rangkaian Erau.
Kegiatan ini turut di hadiri oleh unsur Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar), Forkopimda Kukar serta para kerabat Kesultanan.

Pangeran Mangkupati Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Sultan Danur Dwi Jatmiko, mengatakan Beluluh merupakan warisan budaya yang telah berlangsung selama berabad-abad dan hingga kini masih dipertahankan dalam rangkaian pelaksanaan Erau.
“Maknanya itu pada intinya mensucikan diri. Ini adalah warisan budaya dari Kesultanan Kutai yang kami harapkan dapat terus berlangsung sampai kapan pun dan warisan ini terus akan kita jaga,” ujarnya.
Menurutnya, prosesi Beluluh juga menjadi bagian dari doa dan harapan agar Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura diberikan kekuatan lahir dan batin dalam menjalani seluruh rangkaian Erau.
Hal itu dinilai penting karena rangkaian Erau pada tahun ini berlangsung cukup panjang, termasuk tahapan pra-Erau, pelaksanaan Erau hingga pasca-Erau.
“Harapannya ketika proses Erau berlangsung, Ayahanda Sultan juga diberikan kekuatan lahiriah dan batiniah dan dijaga supaya dapat menjalani proses Erau yang sangat berat,” jelasnya.
Pangeran Mangkupatih menambahkan, terdapat sejumlah prosesi adat lain yang juga menjadi bagian dari rangkaian Erau, seperti Beluluh dan Bepelas. Prosesi tersebut wajib dilaksanakan selama rangkaian Erau berlangsung.
“Beluluh pertama ini salah satu rangkaian pra-Erau. Ini juga wajib dilaksanakan Sultan dalam rangka mendoakan. Nanti ketika pembukaan, beliau tetap melaksanakan prosesi Beluluh di sore hari, kemudian dilaksanakan Bepelas pada malam hari,” ungkapnya.
Dalam prosesi Beluluh, terdapat pula ritual pelepasan jalinan janur yang dilakukan oleh para pejabat. Menurut Pangeran Mangkupatih, janur tersebut memiliki makna filosofis sebagai bagian dari kekayaan alam tanah Kutai.
Ketika jalinan janur dilepas dan Sultan menahannya, prosesi tersebut dimaknai sebagai simbol membuang bala atau menjauhkan hal-hal buruk. Secara filosofi, makna tersebut memiliki kemiripan dengan prosesi Tempong Tawar, meski penggunaannya berbeda.
Sementara itu, Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan Pemkab Kukar turut menyaksikan langsung prosesi Beluluh Sultan sebagai bagian dari rangkaian Erau Adat Kutai 2026.
“Hari ini kita melaksanakan Beluluh Sultan di Kesultanan. Kita menyaksikan prosesi adat yang merupakan bagian dari rangkaian Erau Adat tahun 2026,” ujarnya.
Ia berharap prosesi adat tersebut menjadi bagian dari doa agar seluruh pelaksanaan Erau tahun ini dapat berjalan lancar, semarak, dan sesuai dengan rencana yang telah disiapkan panitia.
“Kita harapkan dengan prosesi Beluluh ini pelaksanaan kegiatan Erau menjadi lebih lancar lagi, bisa menjadi kegiatan yang lebih semarak lagi. Sekali lagi kita berharap kegiatan ini berjalan sesuai dengan apa yang sudah kita rencanakan,” pungkasnya. (Adv/van)

















