KUKAR: Maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kutai Kartanegara (Kukar) di tengah musim kemarau turut meningkatkan kewaspadaan terhadap gangguan kesehatan masyarakat, terutama Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar, Ismi Mufiddah, mengatakan berdasarkan laporan dari seluruh puskesmas, kasus ISPA secara umum menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa bulan terakhir.
Pada Juni 2026, tercatat sebanyak 2.554 kasus ISPA. Jumlah tersebut meningkat menjadi 2.866 kasus pada Juli. Sementara hingga 12 Agustus 2026, tercatat 1.699 kasus yang dilaporkan dari seluruh puskesmas di Kukar.
“Kalau melihat secara kabupaten memang ada peningkatan. Namun, peningkatannya belum sangat signifikan dan tidak merata di setiap puskesmas. Ada yang jumlah kasusnya relatif sama dalam tiga bulan terakhir,” kata Ismi kepada dutakaltimnews.com Rabu (12/8/2026).
Ia menjelaskan, ISPA tidak selalu disebabkan oleh asap kebakaran hutan dan lahan. Penyakit tersebut dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari perubahan cuaca, kondisi lingkungan, hingga daya tahan tubuh seseorang.
Namun, kondisi udara yang tercemar asap karhutla tetap menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai, terutama bagi masyarakat yang memiliki penyakit penyerta.
Ismi mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga beberapa waktu ke depan. Terlebih, kondisi cuaca pada Agustus cenderung lebih panas dengan curah hujan yang relatif rendah.
“Kalau udara cukup panas, apalagi sudah mulai terasa asap, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah. Kalau harus keluar, gunakan masker dan tetap menjaga kesehatan,” ujarnya.
Menurutnya, masyarakat juga perlu memperbanyak konsumsi air putih untuk mencegah dehidrasi, serta mengonsumsi makanan bergizi dan sayuran.
Kelompok rentan seperti ibu hamil, bayi, balita, serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta, termasuk asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), diminta lebih berhati-hati terhadap paparan asap.
“Yang sudah memiliki penyakit penyerta perlu menjaga diri lebih optimal, termasuk mencegah terpapar asap dan tetap menjalani pengobatan,” jelasnya.
Selain saluran pernapasan, paparan asap juga dapat menyebabkan iritasi pada mata. Karena itu, masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah disarankan menggunakan kacamata apabila kondisi udara mulai dipenuhi asap.
“Kalau memang harus beraktivitas di luar rumah, gunakan masker dan bila perlu kacamata. Pakaian yang menutup tubuh juga bisa digunakan untuk mengurangi paparan panas matahari,” katanya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Muara Badak, Ambo Alwi, mengatakan hingga saat ini pihaknya belum menemukan peningkatan kasus kesehatan yang secara langsung berkaitan dengan dampak kebakaran hutan dan lahan.
“Kalau dampak dari kebakaran hutan sampai saat ini belum ada yang kami temukan. Untuk ISPA memang ada kasus, tetapi peningkatannya tidak terlalu signifikan,” ujar Ambo.
Puskesmas Muara Badak, lanjutnya, terus melakukan pemantauan terhadap pasien yang datang berobat, termasuk melihat gejala yang berkaitan dengan gangguan pernapasan.
Pihak puskesmas juga berkoordinasi dengan tim penanggulangan bencana dan unsur terkait untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pencegahan dampak asap.
“Kami terus memberikan edukasi kepada masyarakat untuk menggunakan masker. Media promosi kesehatan di puskesmas juga kami manfaatkan untuk menyampaikan imbauan,” katanya.
Ambo menegaskan, kondisi tersebut masih dalam pemantauan. Puskesmas juga terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk unsur penanggulangan bencana dan perusahaan yang memiliki fasilitas kesehatan, untuk mengantisipasi apabila terjadi peningkatan dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat.
Dengan kondisi kemarau yang masih berlangsung, masyarakat diimbau tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan. Jika mengalami keluhan seperti batuk, sesak napas, atau gangguan pernapasan lainnya, masyarakat dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. (and)













