Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
KUTAI KARTANEGARA

Kemarau Diprediksi hingga Akhir November, BPBD Kukar Waspadai Kekeringan dan Karhutla

216
×

Kemarau Diprediksi hingga Akhir November, BPBD Kukar Waspadai Kekeringan dan Karhutla

Share this article
Kebakaran Lahan di Kukar (Istimewa)
Kebakaran Lahan di Kukar (Istimewa)
Example 468x60

KUKAR: Musim kemarau di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) diperkirakan masih berlangsung hingga akhir November 2026. Kondisi tersebut menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar karena kemarau tahun ini diprediksi lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya.

Kepala BPBD Kukar, Setianto Aji Nugroho, mengatakan berdasarkan kondisi cuaca saat ini, kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi dua potensi bencana yang perlu mendapat perhatian selama beberapa bulan ke depan.

“Kalau kita mengikuti kondisi cuaca sekarang, potensi bencana yang paling mungkin terjadi adalah kekeringan dengan kondisi kebakaran hutan dan lahan. Dan itu benar-benar sudah terjadi,” kata Setianto kepada dutakaltimnews.com Senin (10/8/2026).

Ia menyebut, BPBD Kukar dalam sepekan terakhir telah menangani sejumlah kejadian karhutla di beberapa wilayah, di antaranya Parangkayu, Warapadat, dan Samboja.

Menurutnya, panjangnya periode kemarau juga berpotensi memberikan dampak terhadap sektor pertanian. Salah satunya di Kecamatan Marangkayu yang mulai dipantau karena terdapat lahan pertanian yang terancam kekeringan dan berisiko mengalami gagal panen.

Tim BPBD bersama pihak pertanian telah turun ke lapangan untuk mengidentifikasi sumber air yang dapat dimanfaatkan guna memenuhi kebutuhan pengairan lahan pertanian.

“Tim kami ke Marangkayu bersama pertanian untuk melihat potensi sumber air yang bisa digunakan. Kalau ada sumber air yang memungkinkan, nanti kita bantu petani dengan pompa,” ujarnya.

Setianto mengatakan, langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari antisipasi agar kekeringan yang berlangsung cukup panjang tidak semakin memperbesar risiko gagal panen.

Selain sektor pertanian, BPBD Kukar juga mulai menyiapkan sarana dan prasarana untuk menghadapi kemungkinan meningkatnya kebutuhan air bersih masyarakat.

“Persiapan kita untuk penanganan kekeringan juga membantu mengurangi risiko gagal panen. Kami sekaligus menyiapkan sarana dan prasarana untuk membantu masyarakat apabila ada permintaan air bersih,” jelasnya.

Setianto memperkirakan musim kemarau tahun ini berlangsung lebih panjang hingga akhir November. Namun, pihaknya tetap memantau perkembangan kondisi iklim dan perubahan suhu permukaan Samudra Pasifik yang dapat memengaruhi kondisi cuaca di Indonesia.

“Kalau prediksi sementara dari BMKG, sampai berakhirnya kemarau ini akan lumayan kering dibandingkan tahun lalu. Tahun lalu masih kemarau basah, istilahnya. Kalau tahun ini diperkirakan lebih kering,” ungkapnya.

Sejumlah wilayah di Kukar juga menjadi perhatian karena telah terpantau memiliki potensi titik panas. Di antaranya Samboja, Samboja Barat, Warapadat, Parangkayu, dan Muara Kaman.

Khusus Muara Kaman, BPBD memberikan perhatian karena wilayah tersebut memiliki kawasan lahan gambut yang rentan terbakar saat kemarau panjang. Aktivitas pembukaan atau pengelolaan lahan dengan cara membakar berpotensi memicu kebakaran yang sulit dikendalikan.

“Di Muara Kaman memang ada lahan gambut. Saat musim kemarau, ada aktivitas masyarakat mengolah lahan gambut dengan cara membakar. Karena itu, kami sudah berkoordinasi dengan pihak kecamatan dan kehutanan untuk rencana patroli di sana,” katanya.

Patroli tersebut diharapkan dapat mencegah api meluas sekaligus mengurangi potensi terjadinya kebakaran gambut selama periode kemarau.

BPBD Kukar juga mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan. Imbauan tersebut dinilai penting mengingat kondisi cuaca yang panas dan kering diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

“Kami sangat mengimbau masyarakat di tengah cuaca panas dan kering seperti ini untuk menghindari membuka lahan dengan cara membakar. Itu dapat memicu kebakaran lahan dan hutan yang berdampak buruk terhadap lingkungan serta kesehatan, termasuk menyebabkan ISPA,” tegas Setianto.

Sementara itu, Kepala Desa Kedang Murung, Junaidy, turut mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau.

“Kami mengimbau masyarakat agar tetap berhati-hati dalam beraktivitas, baik saat membakar sampah maupun membuka lahan. Musim kemarau membuat kondisi lahan lebih rawan terjadi kebakaran,” kata Junaidy.

Dengan perkiraan kemarau yang masih berlangsung hingga akhir November, masyarakat di Kukar diharapkan tidak lengah dan turut menjaga lingkungan dari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. (and)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *