KUKAR: Dugaan keracunan massal yang menimpa puluhan penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Sebulu menuai sorotan DPRD Kutai Kartanegara.
Ketua DPRD Kukar, Ahmad Yani, mendesak pemerintah daerah segera mengaudit dan menginvestigasi dapur penyedia makanan. Jika terbukti melakukan pelanggaran, ia meminta izin operasional dapur tersebut dicabut.
Ahmad Yani menilai insiden tersebut sangat disayangkan karena Program MBG seharusnya dijalankan dengan pengawasan ketat sesuai standar operasional prosedur (SOP).
Menurutnya, tidak boleh ada pelanggaran dalam proses pengolahan, penyajian, maupun distribusi makanan yang berpotensi membahayakan kesehatan penerima manfaat.
“Kalau memang terbukti ada pelanggaran, kelalaian, atau unsur kesengajaan, dapur penyedia makanan harus ditindak tegas, bahkan ditutup atau dicabut izinnya,” tegas Ahmad Yani kepada dutakaltimnews.com Selasa (4/8/2026).
Ia juga meminta pemerintah daerah segera mengambil langkah sesuai kewenangannya untuk memastikan penyebab dugaan keracunan dan mencegah kejadian serupa terulang. DPRD Kukar, lanjutnya, juga berencana turun langsung ke lokasi guna melihat kondisi di lapangan.
Menurut Ahmad Yani, kasus dugaan keracunan MBG yang menjadi perhatian publik tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa. Pengelola dapur, kata dia, harus bekerja secara profesional karena program tersebut menyangkut kesehatan dan keselamatan masyarakat, khususnya anak-anak.
“Kami tidak ingin ada korban yang lebih parah. Program yang bertujuan meningkatkan gizi masyarakat jangan sampai justru membahayakan penerima manfaat akibat kelalaian pengelola,” ujarnya.
Sebelumnya, puluhan murid, guru, dan penerima manfaat lainnya diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan Program MBG yang didistribusikan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Sebulu Ulu, Kecamatan Sebulu, Senin (3/8/2026).
Sebanyak 46 orang dilaporkan mengalami keluhan berupa mual, muntah, pusing, sakit kepala, hingga sakit perut. Dari jumlah tersebut, 27 orang menjalani penanganan di Unit Gawat Darurat (UGD) Puskesmas Sebulu, sementara 19 orang lainnya mendapatkan perawatan di poli anak. (and)

















