KUKAR: Kepala Dinas Perkebunan Kutai Kartanegara (Kukar), Muhammad Taufik, menyebut sektor kelapa sawit masih menjadi komoditas perkebunan unggulan di Kukar. Saat ini, tanaman sawit tersebar di seluruh 20 kecamatan dengan beberapa wilayah menjadi sentra utama pengembangan.
Taufik menjelaskan kawasan unggulan kelapa sawit berada di Kecamatan Kembang Janggut, Kenohan, dan Tabang. Sementara kawasan pengembangan berikutnya meliputi Marangkayu, Muara Badak, Anggana, serta sejumlah kecamatan lainnya.
“Kami memiliki potensi sawit di seluruh 20 kecamatan. Namun memang ada kawasan yang menjadi sentra unggulan, kemudian ada juga kawasan pengembangan lainnya,” ujarnya.
Selain memiliki area perkebunan yang luas, Kukar juga telah didukung sebanyak 18 pabrik kelapa sawit (PKS).
“Nah ini yang mudah-mudahan kita dorong dan kita harapkan bisa ada industri hilirnya dari crude palm oil (CPO). ungkapnya.
Menurutnya, pemerintah daerah kini berupaya mendorong hilirisasi industri sawit agar nilai tambah komoditas tersebut dapat dinikmati di daerah.
“Kemarin juga sudah ada penjajakan untuk industri Palm Kernel Oil (PKO), inti sawitnya.
Ada juga penjajakan dari calon investor dari Cina kemarin yang menjajaki untuk pembangunan pabrik industri minyak inti sawit yang juga kami dorong untuk ada turunannya di dalam daerah nantinya”, jelasnya.
Taufik mengungkapkan luas total areal perkebunan di Kukar saat ini mencapai sekitar 206 ribu hektare, dengan sekitar 186 ribu hektare di antaranya merupakan perkebunan kelapa sawit. Sisanya terdiri atas komoditas lain seperti karet, kelapa dalam, lada, kopi, kakao, dan aren.
“Kami saat ini fokus membina tujuh komoditas perkebunan yang memang sudah berkembang di Kukar, bukan membuka komoditas baru,” katanya.
Meski menjadi komoditas dominan, porsi perkebunan sawit rakyat di Kukar masih relatif kecil. Dari sekitar 186 ribu hektare perkebunan sawit, hanya sekitar 35–36 ribu hektare yang merupakan kebun milik masyarakat.
“Sebagian besar areal sawit di Kukar masih dikelola perusahaan perkebunan, termasuk kebun plasma. Kalau secara nasional perkebunan rakyat bisa mencapai sekitar 40 persen, di Kukar masih sekitar 30 ribuan hektare,” pungkasnya. (*van)

















