KUKAR: Menjadi satu-satunya perempuan di tengah belasan petugas pemadam kebakaran laki-laki bukan perkara mudah. Namun bagi Dhiah Ayu Mulyaningrum, profesi itu justru menjadi jalan pengabdian yang ia pilih dan jalani dengan penuh keyakinan.
Perempuan kelahiran Trenggalek, Jawa Timur, 9 Maret 1990 itu kini tercatat sebagai satu-satunya anggota perempuan di Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) Kutai Kartanegara (Kukar), Pos Sektor Kecamatan Loa Kulu.
Ayu, sapaan akrabnya, awalnya tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang petugas pemadam kebakaran. Dengan latar belakang sarjana pendidikan, ia sempat bercita-cita menjadi guru.
Namun saat merantau ke Kukar pada 2011, jalan hidup membawanya ke arah berbeda. Pada 2012, ia mencoba mendaftar sebagai relawan damkar yang dibuka untuk tujuh kecamatan, termasuk Loa Kulu.
Awalnya hanya iseng, tetapi justru dari situlah kariernya dimulai. Setelah menerima Surat Keputusan (SK) sebagai relawan, ia kemudian diangkat menjadi Tenaga Harian Lepas (THL), hingga akhirnya pada 2024 resmi menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
“Nah akhirnya dikesampingkan yang tadi itu, sarjana pendidikan yang mau jadi guru. Sudah nyaman di sini, maksudnya kita menolong orang, membantu orang,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Menurut Ayu, pekerjaan damkar bukan hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga keterampilan, pengalaman, dan keberanian.
Ia mengaku telah beberapa kali mengikuti pelatihan, mulai dari simulasi turun dari ketinggian, masuk ke ruangan penuh asap, hingga praktik memadamkan api secara langsung.
“Kalau damkar ini kan agak bahaya, bukan cuma butuh pengetahuan, tapi butuh skill, pengalaman, sama pelatihan,” katanya.
Meski demikian, untuk penyelamatan seperti evakuasi ular dan tawon, ia mengaku masih banyak belajar secara otodidak karena belum ada pelatihan rescue khusus.
“Kalau untuk penyelamatan tawon sama ular masih otodidak. Cuma tahu caranya pegang stick, jepit kepala ular, tahu jenis ularnya seperti apa,” jelasnya.
Pengalaman paling berkesan bagi Ayu justru terjadi di hari pertama ia bekerja.
Saat itu, pagi harinya ia baru menerima teori dasar dan belum sempat menjalani praktik lapangan. Namun malam harinya, sekitar pukul 19.00 Wita, kebakaran besar terjadi hanya sekitar 300 meter dari markas.
Kebakaran tersebut menghanguskan sekitar lima rumah warga dan menjadi “latihan” pertamanya sebagai petugas damkar.
“Baru pertama kali kerja, baru satu hari kerja itu, langsung ada kebakaran besar. Masih bingung pengoperasian mobil damkar, semua otodidak,” kenangnya.
Menurutnya, masyarakat sering salah memahami profesi pemadam kebakaran. Banyak yang menganggap damkar hanya bekerja saat ada kebakaran dan sisanya hanya tidur di markas.
Padahal, menurut Ayu, ketika petugas damkar sedang tidak bertugas berarti kondisi masyarakat sedang aman.
“Kalau kami tidur itu harusnya masyarakat senang, berarti tidak ada kejadian bencana. Kalau kami kerja, berarti ada musibah,” ujarnya.
Di luar tugas utama, petugas damkar juga rutin melakukan latihan fisik, latihan alat, hingga edukasi kepada anak-anak TK tentang pencegahan kebakaran.
Selain menghadapi api, Ayu juga kerap berhadapan dengan situasi emosional, terutama saat melihat korban kebakaran kehilangan rumah bahkan anggota keluarga.
Ia masih mengingat peristiwa kebakaran yang menewaskan dua balita, di mana sang ibu mengalami syok berat.
“Kami itu seolah-olah berada di situasi yang sama. Bingung, tapi tetap berusaha semaksimal mungkin membantu dan menenangkan korban,” ucapnya lirih.
Sebagai perempuan di lingkungan kerja yang didominasi laki-laki, Ayu mengaku pernah diragukan di awal kariernya.
Dulu, ia sering diminta tetap di markas sementara rekan laki-lakinya turun langsung ke lapangan.
“Awal-awal pasti sering diragukan. Dulu disuruh tunggu di sini saja, mereka yang ke lapangan. Tapi sekarang sudah tidak lagi, semua ikut turun,” katanya.
Menurut Ayu, perempuan justru memiliki keunggulan tersendiri dalam profesi ini, terutama dalam komunikasi dan negosiasi.
Saat warga panik atau marah karena keterlambatan petugas, kehadiran perempuan kerap membuat situasi lebih mudah dikendalikan.
“Kalau yang pertama turun perempuan, biasanya mereka tidak terlalu marah. Kalau negosiasi juga lebih fleksibel,” ujarnya.
Bagi Ayu, keberanian bukan sekadar nekat mengambil tindakan, tetapi berani menghadapi risiko dengan penuh tanggung jawab.
“Berani itu bukan asal maju tanpa pikir panjang. Tapi berani mengambil risiko dan bertanggung jawab atas itu,” tegasnya.
Di momen Hari Kartini 2026, Ayu memaknai perjuangan R.A. Kartini sebagai tonggak penting kesetaraan perempuan.
Menurutnya, tanpa perjuangan Kartini, perempuan mungkin tidak memiliki kesempatan yang sama dalam pendidikan maupun pekerjaan.
“Kalau tidak ada Ibu Kartini, mungkin kami susah untuk kerja, susah untuk sekolah. Karena yang dianggap punya power itu laki-laki,” katanya.
Sebagai ibu dari satu anak perempuan yang kini duduk di bangku SMA, Ayu juga berpesan agar perempuan masa kini berani mandiri dan tidak bergantung sepenuhnya pada laki-laki.
“Sebagai perempuan kita jangan lemah. Harus punya dedikasi, prestasi, dan keberanian menunjukkan diri kita. Kalau bisa laki-laki punya penghasilan satu, kita juga punya satu. Jadi saling menghargai,” tutupnya. (*van)

















