BALIKPAPAN: Keluhan masyarakat soal kualitas air bersih berwarna keruh hingga kekuningan di Balikpapan mulai menemukan titik terang. Hasil peninjauan lapangan menunjukkan, persoalan diduga bukan berasal dari proses produksi, melainkan pada jaringan distribusi.
Hal ini disampaikan Ketua Komisi II DPRD Kota Balikpapan, Fauzi Adi Firmansyah, usai melakukan inspeksi ke Instalasi Pengolahan Air (IPA) di Kelurahan Gunung Sari dan Damai, pada hari Senin, 13 April 2026.
“Kami menindaklanjuti keluhan masyarakat terkait kualitas air yang keruh dan berwarna kuning. Makanya kami turun langsung ke IPA untuk melihat proses pengolahannya,” ujarnya saat ditemui di Ruang Kerja usai kunjungan.
Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari Rapat Dengar Pendapat (RDP) sebelumnya bersama Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB). DPRD ingin memastikan apakah persoalan kualitas air terjadi di hulu (produksi) atau di hilir (distribusi).
Hasilnya, dari sisi produksi, kualitas air dinilai sudah memenuhi standar. Bahkan, menurut Fauzi, proses pengolahan di IPA telah sesuai dengan standar Kementerian Kesehatan.
“Setelah kami cek langsung, air hasil produksi itu jernih, tidak berbau, dan sudah sesuai standar. Bahan kimia yang digunakan juga sesuai ketentuan,” jelasnya.
Temuan tersebut mengarah pada dugaan bahwa masalah terjadi di jaringan distribusi. DPRD menilai, faktor seperti pipa bocor atau jaringan lama bisa memengaruhi kualitas air yang diterima masyarakat.
“Kemungkinan besar masalahnya ada di distribusi, misalnya kebocoran pipa atau jaringan yang sudah lama,” katanya.
Untuk itu, Komisi II meminta data lengkap kepada PTMB terkait kondisi jaringan pipa di enam kecamatan, termasuk wilayah yang sudah dan belum dilakukan penggantian.
Data tersebut nantinya akan dianalisis untuk memetakan wilayah yang mengalami penurunan kualitas air, sekaligus mengidentifikasi prioritas perbaikan.
“Kami tidak bisa menyimpulkan tanpa data. Makanya kami minta detailnya, nanti akan dipresentasikan supaya bisa kita bedah bersama,” tegas Fauzi.
Ia juga menyoroti bahwa kualitas air yang dirasakan masyarakat bisa berbeda antarwilayah, bahkan antar rumah, tergantung kondisi jaringan distribusi.
“Bisa saja di satu wilayah airnya jernih, tapi di tempat lain keruh. Ini yang akan kami telusuri lebih lanjut,” tambahnya.
DPRD berharap, dengan pemetaan berbasis data tersebut, perbaikan jaringan distribusi bisa dilakukan lebih tepat sasaran. Upaya ini diharapkan mampu menjawab keluhan masyarakat, sekaligus meningkatkan kualitas layanan air bersih di Balikpapan secara menyeluruh.(las)

















