KUKAR : Di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat di bulan Suci Ramadan, Masjid Jami’ KH. Muhammad Sadjid menghadirkan fasilitas kamar musafir sebagai bentuk pelayanan sosial bagi para pelintas daerah.
Masjid ini tak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga menyediakan ruang singgah yang aman dan nyaman bagi warga yang membutuhkan tempat beristirahat sementara.
Berlokasi di Jalan AM Sangaji, Kelurahan Baru, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), inisiatif tersebut muncul setelah pengurus melihat banyaknya jamaah dan musafir yang kerap singgah untuk beribadah sekaligus melepas lelah.
Melalui pemanfaatan ruang lama di lantai dua bangunan masjid, fasilitas kamar musafir kemudian ditata dan difungsikan secara lebih optimal.
Wakil Ketua Bidang Kesekretariatan, Rudy Indra Winarto, mengatakan kamar musafir mulai difungsikan secara penuh sejak 2023.
“Sebenarnya kamar musafir sudah ada sebelumnya, hanya saja belum serapi dan sebagus sekarang. Difungsikan sepenuhnya itu mungkin di tahun 2023,” ujarnya, Jumat (27/2/2026).
Ruangan tersebut merupakan bagian dari desain awal masjid yang memang menyediakan kamar di lantai atas, sementara lantai bawah difungsikan sebagai sekretariat. Setelah mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk donasi jamaah dan penggalangan dana melalui media sosial, fasilitas tersebut direnovasi agar lebih layak digunakan.
Selain swadaya masyarakat, renovasi juga mendapat dukungan hibah pemerintah daerah pada masa Bupati Kukar saat itu, Edi Damansyah.
Saat ini tersedia tiga kamar, satu di antaranya dilengkapi pendingin ruangan (AC) yang biasanya diperuntukkan bagi tamu seperti ustaz atau penceramah. Pengurus menyediakan fasilitas dasar seperti tempat tidur, minuman kopi dan teh, serta kamar mandi. Sementara untuk wudu dan salat tetap dilakukan di area utama masjid.
Sejak meraih penghargaan nasional pada 2024, jumlah musafir yang menginap meningkat signifikan. Masjid ini dinobatkan sebagai Masjid Ramah Dhuafa dan Musafir Terbaik Nasional dalam ajang Anugerah Masjid Percontohan dan Ramah serta International Symposium on Innovative Masjid, setelah melalui seleksi berjenjang dari tingkat kecamatan hingga nasional.
Dalam kategori Masjid Ramah Musafir tingkat nasional, Masjid Jami’ KH Muhammad Sadjid berhasil meraih juara pertama, mengungguli perwakilan dari sejumlah daerah lain.
Pengurus mencatat rata-rata 10 hingga 15 musafir menginap setiap bulan. Bahkan dalam beberapa pekan terakhir, hampir setiap minggu terdapat tamu yang datang. Untuk dapat menginap, musafir diwajibkan melapor kepada pengurus dengan membawa identitas diri seperti KTP dan masa tinggal dibatasi maksimal tiga hari.
“Kami menerima siapa saja yang memenuhi persyaratan dan tidak mencurigakan. Bahkan bukan hanya dari kalangan Muslim, non-Muslim pun akan difasilitasi,” ungkap Rudy.
Ke depan, Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kukar mendorong masjid-masjid lain, khususnya di wilayah hulu dan pesisir, agar turut berpartisipasi dalam ajang serupa, sehingga semakin banyak rumah ibadah yang ramah bagi dhuafa dan musafir di Kukar. (*van)

















