KUKAR: Pesta Laut Samboja 2026 tidak hanya menjadi agenda hiburan masyarakat pesisir, tetapi juga momentum untuk mengangkat kearifan lokal serta memberi ruang bagi talenta-talenta daerah untuk tampil.
Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada 15-18 Oktober 2026 di kawasan Pasar Kuala, RT 14, Samboja Kuala, tersebut akan menampilkan beragam kesenian lokal, mulai dari tari kolosal, band, penyanyi solo, hingga pertunjukan seni dari pelajar dan komunitas masyarakat.
Ketua Panitia Pesta Laut Samboja, Muhammad Saleh, mengatakan kegiatan tersebut merupakan agenda tahunan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara melalui Dinas Pariwisata yang dilaksanakan bersama masyarakat setempat.
“Tema tahun ini adalah Pesta Laut Tempo Dulu. Jadi akan menceritakan kembali asal mula Pesta Laut dan budaya yang dibangun masyarakat di lingkungan pesisir Samboja Kuala,” ujarnya Selasa (6/10/2026).
Menurutnya, konsep tersebut akan diperkuat melalui pertunjukan tari kolosal yang menggambarkan awal mula Pesta Laut sekaligus memperkenalkan kearifan lokal dan budaya masyarakat pesisir kepada generasi muda.
Rangkaian kegiatan diawali ritual adat pada 15 Oktober. Selanjutnya, 16 Oktober menjadi agenda pembukaan yang diisi berbagai penampilan talenta lokal. Sejumlah penampil juga akan berasal dari wilayah sekitar, termasuk Muara Jawa dan Samboja Barat.
“Semua talent lokal akan dilibatkan. Ada penari, band, penyanyi solo, termasuk dari pelajar SD, SMP, SMA dan paguyuban,” katanya.
Muhammad Saleh menyebut persiapan panitia saat ini terus dilakukan, termasuk koordinasi dengan pelaku UMKM. Dari 13 desa dan kelurahan di Kecamatan Samboja, sekitar 90 persen pelaku UMKM disebut telah dihimpun untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Persiapan juga dilakukan terhadap para talent yang akan tampil selama empat hari pelaksanaan. Sejumlah kelompok seni dan musik telah mulai melakukan latihan.
Muhammad Saleh menambahkan, pelaksanaan Pesta Laut tahun ini sempat mengalami perubahan jadwal. Salah satu pertimbangannya adalah kondisi cuaca dan angin selatan yang dinilai belum memungkinkan untuk pelaksanaan kegiatan di laut.
“Dari Februari sampai bulan kemarin masih angin selatan. Kami memastikan dulu kondisi nelayan dan cuaca mendukung, sehingga kegiatan di laut tidak membahayakan masyarakat,” jelasnya.
Selain pertunjukan seni dan UMKM, rangkaian kegiatan juga dijadwalkan menghadirkan penceramah dari Surakarta pada 17 Oktober, sebelum acara berlanjut hingga penutupan pada 18 Oktober.
Muhammad Saleh berharap Pesta Laut Samboja tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan. Ia ingin tradisi tersebut terus dilestarikan sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan kreativitas dan meningkatkan perekonomian.
“Harapannya ada efek domino. Secara adat Pesta Laut tetap kita budayakan, kemudian UMKM dan perekonomian terus berputar. Dari sisi budaya, tari, band, penyanyi solo, dan kreativitas masyarakat juga terus kita dorong,” ungkapnya.
Sementara itu, Koordinator Bagian Talent Festival Pesta Laut Samboja, Alfon Perwira Saputra, mengatakan keterlibatan talenta lokal menjadi salah satu upaya agar pesta rakyat tersebut tidak hanya bergantung pada hiburan dari luar daerah.
“Lebih menonjolkan kreativitas yang ada di Samboja. Nanti tidak hanya dari Samboja, tetapi juga melibatkan talent dari kecamatan tetangga seperti Muara Jawa dan Samboja Barat,” ujarnya.
Ia menyebut pertunjukan yang disiapkan akan
lebih banyak mengedepankan seni, khususnya tari dan musik. Kehadiran hiburan tersebut diharapkan semakin menarik masyarakat untuk datang sekaligus memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi warga.
Menurutnya, semakin banyak pengunjung yang hadir, semakin besar pula peluang terjadinya perputaran ekonomi bagi pelaku UMKM maupun sektor pendukung lainnya seperti parkir. (and)

















