BALIKPAPAN: Pemandangan berbeda terlihat di Pelabuhan Penyeberangan Kariangau pada musim mudik Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah. Jika sebelumnya identik dengan antrean panjang kendaraan dan penumpang, kini suasana justru lengang seolah ritual tahunan mudik via kapal mulai ditinggalkan.
Sejak H-6 hingga H-5 Idulfitri, jumlah pemudik yang melintas bahkan tidak mencapai 300 orang per hari. Angka ini kontras dengan tahun-tahun sebelumnya, ketika pelabuhan menjadi salah satu titik tersibuk bagi warga yang hendak menuju Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).
Perubahan drastis ini bukan tanpa sebab. Hadirnya Jembatan Pulau Balang serta akses tol menuju Ibu Kota Nusantara (IKN) perlahan menggeser kebiasaan masyarakat dalam memilih moda transportasi.
“Sekarang orang lebih pilih jalur darat. Lebih cepat, lebih praktis,” ujar Karolus Makin, Pengawas Satuan Pelayanan Pelabuhan Penyebrangan Kariangau Kementerian Perhubungan.
Ia mengungkapkan, penurunan terjadi cukup tajam, baik dari sisi penumpang maupun kendaraan. Bahkan, arus mudik ke arah Penajam melalui pelabuhan hampir tidak terlihat lagi, kecuali pada malam hari saat akses tol ditutup.
Data Posko Angkutan Lebaran 2026 memperkuat perubahan tersebut. Pada 14 Maret 2026, kendaraan roda dua tercatat 535 unit atau turun 59 persen, sementara roda empat sebanyak 910 unit, merosot hingga 62 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan lebih tajam terjadi pada periode H-8 (14–15 Maret), di mana kendaraan roda dua hanya 407 unit (turun 70 persen) dan roda empat 850 unit (turun 75 persen).
Meski demikian, jumlah penumpang sempat menunjukkan dinamika berbeda. Pada satu hari tertentu tercatat meningkat tipis, sebelum akhirnya kembali turun hingga 39 persen pada periode berikutnya.
Meski kehilangan dominasi sebagai jalur utama mudik lokal, Kariangau belum sepenuhnya sepi fungsi. Pelabuhan ini masih menjadi andalan untuk perjalanan antarpulau, khususnya menuju wilayah Sulawesi seperti Palu dan sekitarnya.
Operasional pun tetap berjalan normal dengan 12 kapal setiap hari, didukung posko Lebaran dan petugas gabungan untuk menjaga keamanan dan pelayanan.
Fenomena ini menjadi gambaran nyata bagaimana pembangunan infrastruktur tidak hanya mempercepat mobilitas, tetapi juga mengubah kebiasaan masyarakat. Jalur laut yang dulu menjadi pilihan utama kini mulai bergeser, digantikan oleh jalan darat yang lebih efisien.
Di satu sisi, masyarakat diuntungkan dengan perjalanan yang lebih cepat. Namun di sisi lain, geliat pelabuhan yang dulu hidup saat musim mudik kini mulai meredup menandai babak baru dalam peta transportasi di kawasan penyangga IKN.(las)

















