KUKAR: Regenerasi pelaku ekonomi kreatif menjadi perhatian Dinas Pariwisata (Dispar) Kutai Kartanegara (Kukar). Mulai 2027, Dispar Kukar merencanakan pengembangan program Ekraf Goes to School untuk menjaring talenta muda, termasuk calon komika, di lingkungan sekolah.
Program ini disiapkan sebagai langkah memperluas regenerasi pelaku ekonomi kreatif agar perkembangan subsektor kreatif di Kukar tidak hanya bergantung pada komunitas yang sudah ada.
Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kukar, Zikri Umulda, mengatakan program tersebut akan melibatkan berbagai subsektor, mulai dari film, fotografi, tari, musik hingga komedi.
“Kami mencoba skema menggabungkan Ekraf Goes to School untuk mencari bibit-bibit di sekolah. Nanti beberapa subsektor, seperti film, fotografi, tari dan musik, akan turun bersama-sama ke sekolah untuk mencari bibit baru,” ungkap Zikri Selasa (13/10/2026).
Menurutnya, penjaringan sejak usia sekolah menjadi salah satu upaya untuk menemukan potensi baru sekaligus memperkenalkan peluang pengembangan kreativitas kepada generasi muda.
Salah satu subsektor yang mendapat perhatian ialah stand up comedy. Dispar Kukar menilai komedi tunggal memiliki potensi untuk terus berkembang karena mengandalkan kreativitas, kemampuan mengamati persoalan sehari-hari, serta riset dalam menyusun materi.
Zikri mengungkapkan, pihaknya telah lama memantau Komunitas Stand Up Comedy Tenggarong yang sempat vakum sebelum kembali aktif berkarya. Ia mengapresiasi komunitas tersebut karena mampu menjalankan kegiatan secara mandiri tanpa pembiayaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Memang komunitas ini sudah lama kami perhatikan. Sempat vakum, kemudian mulai kembali berkarya dan mendapat atensi dari kami. Mereka juga tumbuh secara mandiri tanpa pembiayaan APBD, sehingga kami sangat mengapresiasi semangat komunitas ini,” katanya.
Selain menjaring anggota baru, Dispar Kukar menyiapkan skema penguatan kapasitas komunitas melalui pengembangan kualitas materi dan kemampuan komika. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya tarik pertunjukan sekaligus memperluas penonton.
Sementara itu, Ketua Komunitas Stand Up Comedy Tenggarong menyebut perkembangan komunitas dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan tren positif. Saat ini, sekitar 14 anggota telah terdaftar, termasuk anggota baru yang mulai mampu menyiapkan materi komedi berdurasi lima menit meski baru bergabung sekitar tiga bulan.
Komunitas tersebut juga membuka kesempatan bagi masyarakat umum untuk mencoba tampil melalui kegiatan open mic yang direncanakan rutin setiap Rabu malam sekitar pukul 20.00 Wita.
Kegiatan ini tidak hanya diperuntukkan bagi mereka yang ingin menjadi komika, tetapi juga masyarakat yang ingin melatih kemampuan berbicara di depan publik atau menyampaikan pengalaman melalui komedi.
Meski demikian, komunitas masih menghadapi tantangan dalam menjaga konsistensi jumlah penonton. Dalam sejumlah kegiatan, penampil dapat mencapai lima hingga enam orang, tetapi penonton yang hadir terkadang masih terbatas.(and)

















