KUKAR: Suasana berbeda mewarnai peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Tenggarong. Puluhan pencinta layangan dari berbagai daerah di Kalimantan Timur berkumpul dalam kegiatan kopi darat (kopdar) sekaligus silaturahmi komunitas pelayang Gapangan, Sabtu (22/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 15.00 Wita hingga selesai itu dipusatkan di area persawahan Rapak Gentong, Jalan Datarwanyi, RT 13, Mangkurawang Darat, Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar).
Ketua Panitia, Andri, mengatakan kegiatan tersebut diikuti pelayang dari sejumlah daerah, di antaranya Bontang, Lempake, Samarinda Kota, Bukuan, serta tuan rumah Tenggarong.
“Yang hadir dari Bontang, Lempake, Samarinda Kota, Bukuan, terus ini tuan rumah Kukar. Agendanya sampai malam, mungkin yang jauh-jauh bisa sampai pagi,” ujar Andri.
Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang menerbangkan layangan, tetapi juga menjadi momentum mempererat silaturahmi antarpelayang se-Kalimantan Timur.
“Pokoknya anginnya bagus, terus main bareng. Kegiatannya kopdar bersama, main layangan bersama. Layangan dibiarkan sampai terbang,” katanya.
Andri menyebut, jumlah peserta diperkirakan mencapai sekitar 60 layangan. Setiap daerah mengirimkan perwakilan dengan rata-rata sekitar 15 layangan.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi agenda rutin setiap tahun. Lokasinya pun nantinya dapat bergantian di sejumlah daerah, seperti Bontang, Samarinda, Bukuan, maupun Kukar.
“Insyaallah ini rutin setahun sekali. Nanti mungkin gantian tempatnya, bisa di Bontang, bisa di Bukuan. Kalau hari ini kan di Kota Raja,” ujarnya.
Andri menjelaskan, layangan Gapangan umumnya menggunakan bambu sebagai bahan dasar. Bentuknya pun beragam, mulai dari model ceper hingga klasik, termasuk layangan yang dilengkapi bunyi-bunyian atau dikenal dengan istilah “sendaren”.
Untuk bahan plastiknya, digunakan jenis khusus yang memang diperuntukkan bagi pembuatan layangan.
Sementara itu, peserta dari Bontang, Edi, menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, kopdar menjadi wadah bagi para pencinta layangan untuk bertemu secara langsung setelah selama ini lebih banyak berkomunikasi melalui media sosial dan grup WhatsApp.
“Ini wadah kita silaturahmi pecinta layangan Gapangan se-Kalimantan Timur. Kami dari Bontang sangat merindukan momen seperti ini, kita bisa jadi satu dalam hobi yang sama,” kata Edi.
Ia mengakui kondisi cuaca menjadi salah satu tantangan dalam kegiatan tersebut. Namun, hal itu tidak menyurutkan antusiasme peserta untuk berkumpul dan bersilaturahmi.
“Masalah cuaca itu urusan yang di atas. Kita sudah prediksi, tetapi cuacanya kadang tidak menentu. Setidaknya kita sudah berkumpul sesama sehobi,” ujarnya.
Edi mengatakan, pertemuan secara langsung seperti ini membuat hubungan antaranggota komunitas semakin akrab. Selama ini, komunikasi lebih banyak dilakukan melalui media sosial dengan saling berbagi atau menunjukkan koleksi layangan masing-masing.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus digelar secara bergiliran di berbagai daerah di Kaltim.
“Kemungkinan ke depannya seperti arisan. Setelah dari sini, nanti gantian di daerah lain. Kemarin Bontang dan Samarinda, sekarang Kukar, mungkin daerah lain juga. Kita kan seluruh Kaltim ada,” katanya.
Menurut Edi, kegiatan kopdar tersebut bukan kali pertama dilakukan komunitas pelayang se-Kaltim. Kegiatan serupa telah berlangsung sejak sekitar 2020 dan lokasinya bergantian di sejumlah daerah.
Untuk Kukar sendiri, kegiatan di Tenggarong menjadi pelaksanaan perdana.
Edi menambahkan, bagi sebagian masyarakat, khususnya keturunan Jawa, bermain layangan merupakan bagian dari tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Layangan juga menjadi hiburan masyarakat, terutama setelah musim panen.
“Kalau kami dari orang Jawa, layangan ini adalah tradisi. Di daerah kami, khususnya Blitar, hampir setiap rumah pasti ada. Ini hiburan masyarakat ketika musim panen tiba,” tuturnya.
Menurutnya, tradisi bermain layangan juga menjadi bagian dari upaya melestarikan kebudayaan. Kegiatan tersebut tidak hanya digemari orang tua, tetapi juga anak-anak hingga generasi muda.
“Layangan ini sudah tua, dari zaman kerajaan sudah ada. Jadi kami mengembangkan layangan dari daerah Jawa, namanya Gapangan. Biarpun tua-tua, anak muda sampai anak-anak SD dan SMP, bahkan yang sudah punya cucu juga ada di sini bermain,” katanya.
Ia berharap keberadaan komunitas dan kegiatan kopdar dapat terus menjaga tradisi tersebut agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Kegiatan kopdar layangan Gapangan se-Kaltim ini terbuka untuk umum. Selain menjadi ajang hiburan, kegiatan tersebut juga mengusung semangat kebersamaan dengan mengajak seluruh peserta menciptakan suasana yang aman dan nyaman. (and)

















