JAKARTA – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir kembali menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya atlet pencak silat Kota Semarang, Ayudiah Rivana Tridiandinita, yang berpulang pada Rabu (28/10), setelah menjalani operasi akibat cedera yang dialaminya saat bertanding dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVII Jawa Tengah 2026.
Kepergian Ayudiah menjadi kabar duka kedua dari penyelenggaraan Porprov Jateng 2026, setelah sebelumnya atlet selam asal Kabupaten Jepara, Syabilla Rizkia Putri Raharja, meninggal dunia saat mengikuti perlombaan open water finswimming pada Minggu (25/10).
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Saya kembali menerima kabar yang sangat menyedihkan dari Porprov Jawa Tengah. Belum hilang duka kita atas kepergian Syabilla, kini kita kehilangan Ayudiah, atlet muda yang juga sedang berjuang membawa nama daerahnya. Saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga almarhumah. Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik bagi keduanya dan kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkan,” ujar Menpora Erick.
Ayudiah, atlet pencak silat berusia 19 tahun, sebelumnya mengalami cedera pada jari tangan ketika bertanding di babak perempat final pada Senin (26/10). Ia kemudian mendapatkan penanganan medis dan menjalani operasi di RS Primaya Semarang sebelum dinyatakan meninggal dunia pada Rabu (28/10). Hingga saat ini, penyebab pasti kematiannya masih memerlukan pendalaman lebih lanjut.
Menpora Erick menegaskan bahwa meninggalnya dua atlet dalam satu penyelenggaraan kompetisi olahraga daerah harus menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan olahraga. Menurutnya, meskipun kedua peristiwa memiliki kronologi dan kondisi yang berbeda, keduanya menjadi pengingat pentingnya sistem perlindungan atlet yang menyeluruh.
“Dua atlet muda kehilangan nyawa dalam satu ajang olahraga. Ini bukan sesuatu yang bisa kita anggap biasa. Kita tentu tidak boleh terburu-buru mengambil kesimpulan mengenai penyebab kedua kejadian tersebut. Namun, kita juga tidak boleh berhenti pada ucapan belasungkawa. Ada tanggung jawab besar untuk memastikan keselamatan atlet benar-benar menjadi prioritas, bukan hanya dalam aturan, tetapi juga dalam pelaksanaannya,” tegas Menpora Erick.
Menpora Erick mendukung langkah kepolisian dan pihak terkait untuk mendalami penyebab meninggalnya Ayudiah secara objektif dan transparan. Ia berharap seluruh proses pemeriksaan dapat memberikan kejelasan kepada keluarga sekaligus menjadi dasar untuk menentukan langkah perbaikan yang diperlukan.
Lebih jauh, Menpora Erick meminta KONI Jawa Tengah, penyelenggara Porprov Jawa Tengah 2026, serta seluruh federasi cabang olahraga terkait melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penerapan standar keselamatan dan perlindungan atlet, mulai dari kesiapan fasilitas dan tenaga medis, prosedur penanganan keadaan darurat, hingga pendampingan atlet yang mengalami cedera dan membutuhkan perawatan lanjutan.
“Keselamatan atlet tidak hanya menjadi tanggung jawab ketika pertandingan berlangsung. Tanggung jawab itu harus mencakup seluruh proses, sejak persiapan, saat bertanding, hingga penanganan cedera dan pemulihan. Kita perlu memastikan setiap atlet mendapatkan perlindungan dan penanganan yang layak. Jangan sampai ada celah dalam sistem keselamatan yang justru membahayakan mereka,” kata Menpora Erick.
Menpora Erick juga menekankan bahwa dua peristiwa duka tersebut harus menjadi momentum bagi seluruh penyelenggara kompetisi olahraga di Indonesia untuk meninjau kembali kesiapan dan penerapan standar keselamatan. Evaluasi tidak boleh hanya berhenti pada penyelenggaraan Porprov Jawa Tengah, tetapi harus menjadi perhatian bersama agar perlindungan atlet semakin baik di seluruh tingkatan kompetisi.
“Kita ingin melahirkan atlet-atlet berprestasi dari berbagai daerah, tetapi prestasi tidak boleh dikejar dengan mengesampingkan keselamatan mereka. Kehilangan Syabilla dan Ayudiah adalah duka bagi olahraga Indonesia. Kita harus menjadikan dua kepergian ini sebagai pengingat untuk melakukan perbaikan nyata. Sebab, ukuran keberhasilan sebuah kompetisi juga termasuk dalam hal seberapa baik kita menjaga keselamatan setiap atlet yang berjuang di dalamnya,” pungkas Menpora Erick.
(Sumber: kemenpora.go.id)

















