KUKAR : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis teknologi di sekolah. Melalui program bantuan sarana pendidikan, ribuan perangkat pembelajaran digital serta akses internet disalurkan untuk mendukung transformasi digital di dunia pendidikan.
Kasi Sarana dan Prasarana (Sapras) Bidang Pendidikan SMP, Mujahidin, menjelaskan bahwa pemerintah telah menyalurkan sebanyak 10.976 unit Chromebook untuk sekolah negeri maupun swasta, khususnya di tingkat Sekolah Dasar (SD). Perangkat tersebut dibagikan terutama untuk siswa kelas 4, 5, dan 6.
“Bantuan ini merupakan bagian dari program percepatan transformasi digital dalam pembelajaran. Dengan adanya Chromebook, diharapkan proses belajar mengajar lebih interaktif dan adaptif dengan perkembangan teknologi,” kata Mujahidin, Selasa (12/8/2025).
Selain perangkat, dukungan akses internet juga menjadi prioritas. Menurut Mujahidin, pemerintah telah menyalurkan bantuan Starlink ke 109 sekolah negeri di Kukar. Setiap sekolah menerima satu hingga dua paket, menyesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.
“Bantuan Starlink sangat penting karena masih banyak sekolah yang kesulitan sinyal. Saat ini proses aktivasi sedang berjalan oleh tim dari perusahaan pusat di Jakarta. Targetnya, dalam bulan ini seluruh sekolah penerima sudah bisa memanfaatkan internet Starlink,” tambahnya.
Terkait pemanfaatan di sekolah, Mujahidin mencontohkan SMP Negeri 9 Kukar. Secara umum, kebutuhan Chromebook di sekolah tersebut sudah terpenuhi. Namun, kendala muncul ketika sekolah membuka rombongan belajar (rombel) baru.
“Kalau ada penambahan rombel, otomatis kebutuhan perangkat juga bertambah. Data jumlah siswa dan rombel masih terus diperbarui, biasanya final pada bulan Agustus setelah proses perpindahan siswa selesai. Dari pendataan itu juga akan terlihat jumlah perangkat rusak dan kebutuhan tambahan,” jelasnya.
Sebagai solusi sementara, sekolah dapat menerapkan sistem moving class atau penggunaan perangkat secara bergantian. Dengan cara ini, perangkat yang tersedia bisa tetap dimanfaatkan secara optimal sesuai kebutuhan.
Mujahidin juga menekankan bahwa langkah efisiensi ini dilakukan karena adanya keterbatasan anggaran negara. Saat ini, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami defisit sekitar Rp662 triliun. Dampaknya, anggaran pendidikan juga mengalami pemangkasan sekitar Rp5 triliun.
“Dengan kondisi seperti ini, sekolah harus beradaptasi. Sistem moving class bisa menjadi solusi sementara, sambil menunggu tambahan perangkat pada alokasi berikutnya,” ungkapnya.
Program ini diharapkan mampu mempercepat pemerataan kualitas pendidikan di Kukar, sehingga siswa di daerah terpencil sekalipun bisa merasakan manfaat teknologi digital dalam pembelajaran. (Adv/dk)

















