Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
NASIONAL

Belajar dari Monumen Banjir, Kades Ngunut Ceritakan Cara Belajar Menabung Air

230
×

Belajar dari Monumen Banjir, Kades Ngunut Ceritakan Cara Belajar Menabung Air

Share this article
Monumen itu berdiri sederhana di sisi jalan Desa Ngunut, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo, dengan penanda ketinggian air banjir tahun 2007 menjadi saksi bisu bahwa desa ini pernah ditelan luapan air. Bagi warga Ngunut, monumen itu menjadi pengingat bahwa air pernah datang tanpa bisa dikendalikan.(Dok. Kompas.com)
Monumen itu berdiri sederhana di sisi jalan Desa Ngunut, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo, dengan penanda ketinggian air banjir tahun 2007 menjadi saksi bisu bahwa desa ini pernah ditelan luapan air. Bagi warga Ngunut, monumen itu menjadi pengingat bahwa air pernah datang tanpa bisa dikendalikan.(Dok. Kompas.com)
Example 468x60

PONOROGO – Monumen itu berdiri sederhana di sisi jalan Desa Ngunut, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur dengan penanda ketinggian air banjir tahun 2007 menjadi saksi bisu bahwa desa ini pernah ditelan luapan air.

Bagi warga Ngunut, monumen itu menjadi pengingat bahwa air pernah datang tanpa bisa dikendalikan. Namun, hampir dua dekade kemudian, kekhawatiran warga justru berbalik arah. Bukan lagi banjir yang menjadi ancaman utama, melainkan air yang perlahan menghilang dari dalam tanah.

Di sejumlah rumah, sumur yang dahulu cukup digali sedalam delapan hingga sepuluh meter kini harus diperdalam hingga lebih dari dua puluh meter. Sebagian petani bahkan menggunakan pompa sumur dalam agar tetap bisa mengairi sawahnya selama tiga kali musim tanam.

Paradoks itu yang setiap hari menghantui Kepala Desa Ngunut, Siti Khotijah. “Dulu kami hanya memikirkan bagaimana banjir cepat surut. Sekarang kami berpikir bagaimana air hujan itu jangan sampai habis mengalir ke sungai, tetapi kembali masuk ke tanah,” ujarnya ditemui di ruangkerjanya  Jumat (31/7/2026).

Siti menambahkan, banjir 2007 memang meninggalkan luka. Akan tetapi, luka itu justru melahirkan kesadaran baru bahwa air bukan hanya harus dihadapi ketika berlebihan, melainkan juga harus disimpan ketika tersedia.

Desa Ngunut dikenal sebagai kawasan pertanian. Hamparan sawah membentang hampir di setiap sudut desa. Sebagian besar warga menggantungkan hidup dari padi yang ditanam hingga tiga kali dalam setahun. Produktivitas pertanian memang meningkat. Namun, di balik keberhasilan itu tersimpan persoalan yang perlahan muncul ke permukaan. Sawah-sawah tersebut sebagian besar memperoleh pasokan air dari sumur dalam.

Setiap musim tanam, ribuan meter kubik air dipompa dari bawah tanah. Sebaliknya, ketika musim hujan datang, air hanya mengalir melewati saluran drainase, parit, dan sungai tanpa sempat meresap kembali.

Kader Lingkungan Desa Ngunut, Adi Agustian, mengatakan perubahan tersebut sangat dirasakan warga. “Kalau sekitar tahun 2010 sampai 2015 menggali sumur delapan sampai sepuluh meter sudah keluar air. Sekarang banyak warga harus mengebor hingga dua puluh sampai tiga puluh meter agar mendapatkan air,” katanya.

Perubahan besar itu justru berawal dari sebuah undangan pada awal 2025, Siti Khotijah menghadiri sosialisasi konservasi air yang diselenggarakan Maisa Group bersama pegiat lingkungan Bambang Irianto.

Di forum itulah ia pertama kali mengenal konsep Water Banking Movement, sebuah gerakan yang mendorong masyarakat memperlakukan air hujan layaknya tabungan. Air tidak lagi dibiarkan mengalir ke sungai, sebaliknya  setiap tetes hujan diupayakan kembali masuk ke dalam tanah melalui berbagai media resapan. “Saya membawa cara pandang baru tentang bagaimana memperlakukan air hujan,” katanya.

Tantangan pertama yang dihadapi Siti pada waktu itu adalah meyakinkan warga bahwa biopori akan mampu menyelamatkan cadangan air tanah. Ia menjawab keraguan warga dengan melakukan sosialisasi di manapun berada.

(Sumber: kompas.com)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *