KUKAR : Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) melalui Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) menetapkan arah pembangunan sektor pertanian 2025 dengan menekankan penguatan infrastruktur dan peningkatan kapasitas produksi di lima kawasan prioritas. Total anggaran yang disiapkan mencapai Rp 216 miliar, sebagai bagian dari strategi besar mendukung visi “Kukar Idaman”.
Kepala Distanak Kukar, Muhammad Taufik, menuturkan bahwa 30 persen dari total anggaran akan dialokasikan langsung untuk pembangunan sarana dan prasarana pertanian, mulai dari irigasi teknis, alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga distribusi pupuk. Sementara 70 persen lainnya diperuntukkan bagi tiga program utama: penyediaan sarana produksi, peningkatan kapasitas penyuluhan, dan pemberdayaan petani.
“Kami ingin memastikan petani mendapatkan dukungan menyeluruh, dari hulu ke hilir. Ini bukan hanya tentang alat atau pupuk, tetapi juga bagaimana kita mendorong produktivitas lewat edukasi dan pembinaan,” jelas Taufik Selasa (6/5/2025).
Program ini juga menjadi pelengkap atas intervensi dari pemerintah pusat, yang melalui PPN menggelontorkan dana sekitar Rp 40 miliar khusus untuk empat kecamatan pesisir di Kukar. Total alokasi ini diyakini dapat memperkuat kemandirian pangan daerah serta menjaga keberlanjutan pertanian berbasis kawasan.
Di sektor peternakan, Taufik menggarisbawahi pentingnya pengendalian penyakit hewan dan peningkatan populasi ternak, khususnya sapi, yang hingga kini masih tergantung pasokan dari luar Kukar. “Kami sedang memperkuat program intervensi untuk peternak, termasuk lewat pengadaan bibit dan peningkatan layanan kesehatan hewan,” tambahnya.
Meski sektor peternakan ayam menunjukkan capaian swasembada daging dan telur, tantangan baru muncul dari dinamika iklim yang memengaruhi produktivitas tanaman pangan. Laporan terbaru menyebutkan beberapa sawah mengalami genangan akibat hujan berkepanjangan.
Tak hanya tanaman pangan, subsektor hortikultura turut menjadi prioritas karena potensi ekonominya yang besar. Taufik menyebut Kukar telah menjadi lumbung hortikultura bagi Kalimantan Timur, dengan sentra-sentra produksi tersebar di Tenggarong Seberang, Samboja, Kota Bangun, Sebulu, dan Tenggarong.
“Komoditas seperti cabai, tomat, gambas, dan timun sebagian besar berasal dari petani lokal Kukar. Ini kekuatan yang harus terus dijaga dan ditingkatkan,” ujarnya.
Distanak juga terus memperkuat kemitraan dengan kelompok tani, OPD terkait, dan masyarakat. Perencanaan kegiatan, menurut Taufik, selalu melibatkan masukan dari berbagai pihak – mulai dari kepala daerah, DPRD, hingga aspirasi kelompok tani.
“Setiap rupiah yang digelontorkan harus berdampak langsung ke masyarakat. Ini bukan sekadar program seremonial, tetapi investasi jangka panjang untuk pertanian Kukar yang mandiri dan tangguh,” tutupnya.(Adv/dk)

















