Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
KUTAI KARTANEGARA

Kasus Diabetes di Kukar Tembus 25.520 Kunjungan, Dinkes Soroti Tren Usia Muda dan Konsumsi Minuman Manis

238
×

Kasus Diabetes di Kukar Tembus 25.520 Kunjungan, Dinkes Soroti Tren Usia Muda dan Konsumsi Minuman Manis

Share this article
Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufiddah (Dok. Andri/dutakaltimnews.com)
Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufiddah (Dok. Andri/dutakaltimnews.com)
Example 468x60

KUKAR: Pola konsumsi makanan dan minuman tinggi gula menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Pasalnya, diabetes melitus kini tidak hanya menyerang kelompok lanjut usia (lansia), tetapi juga mulai ditemukan pada anak-anak dan usia produktif.

Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufiddah, mengungkapkan bahwa sepanjang Januari hingga September 2026 tercatat sebanyak 25.520 kunjungan pasien diabetes melitus di puskesmas se-Kukar.

Angka tersebut dinilai cukup tinggi, terlebih jika memperhitungkan pasien yang menjalani pemeriksaan maupun perawatan di rumah sakit.

“Sekarang diabetes ini juga terjadi pada usia yang lebih muda. Kalau dulu mungkin identik dengan lansia, sekarang kelompok usia 18–59 tahun justru menjadi kelompok tertinggi, disusul usia di atas 60 tahun,” ungkap Ismi Jumat (2/10/2026).

Bahkan, Dinkes Kukar mencatat sebanyak 69 kasus diabetes pada kelompok usia 5–18 tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa diabetes tidak lagi dapat dikaitkan semata-mata dengan faktor keturunan, tetapi juga dipengaruhi pola hidup dan konsumsi sehari-hari.

Ismi menyoroti maraknya minuman kekinian yang mengandung gula tinggi, seperti boba, jus dengan tambahan gula dan susu, hingga es teh manis yang mudah ditemukan di berbagai tempat.

Menurutnya, minuman yang dianggap sehat belum tentu baik bagi tubuh apabila ditambahkan pemanis secara berlebihan.

“Kalau ingin minum jus buah, sebaiknya buahnya saja tanpa tambahan gula atau susu. Begitu juga es teh, karena kandungan gulanya bisa tinggi,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat bahwa asupan gula tidak hanya berasal dari gula pasir, tetapi juga karbohidrat dalam makanan pokok seperti nasi.

Diabetes melitus bahkan dikenal sebagai salah satu penyakit yang dapat memicu berbagai komplikasi serius, mulai dari penyakit jantung, gagal ginjal, gangguan penglihatan hingga kecacatan.

Karena itu, Ismi mengajak masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih makanan dan minuman. Ia juga meminta media turut berperan menyebarluaskan edukasi mengenai pola konsumsi sehat.

Masyarakat tidak harus sepenuhnya menghindari minuman manis, tetapi perlu membatasi frekuensi dan kadar gula yang dikonsumsi.

“Kalau membeli minuman, gulanya bisa dikurangi. Sekali-sekali boleh, tetapi tetap harus dibatasi. Kalau ada pilihan, air putih tentu lebih baik,” tegasnya.

Ia menilai, saat ini makanan dan minuman tinggi gula, lemak, serta minyak justru semakin mudah ditemukan dibandingkan pilihan makanan sehat.

Sementara itu, Dewi, salah seorang warga Tenggarong, mengaku keberadaan makanan dan minuman cepat saji yang dijual di pinggir jalan semakin marak.

Menurutnya, konsumen perlu lebih bijak karena tidak selalu mengetahui bahan yang digunakan maupun dampaknya apabila dikonsumsi dalam jangka panjang.

“Kita tidak tahu bahan yang digunakan itu aman atau tidak jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Karena itu, pembeli harus bijak memilih makanan dan minuman agar kesehatan tetap terjaga,” ujarnya.

Ia berharap masyarakat semakin memperhatikan kualitas makanan dan minuman yang dikonsumsi, bukan hanya mempertimbangkan rasa, harga, maupun kemudahan mendapatkannya. (and)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *