Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
KUTAI KARTANEGARA

Air Danau Semayang Surut, Warga Manfaatkan Dasar Danau untuk Tanam Padi

253
×

Air Danau Semayang Surut, Warga Manfaatkan Dasar Danau untuk Tanam Padi

Share this article
Warga menanam padi di kawasan Danau Semayang yang mulai surut akibat kemarau panjang. (Dok. Rusmi)
Warga menanam padi di kawasan Danau Semayang yang mulai surut akibat kemarau panjang. (Dok. Rusmi)
Example 468x60

KUKAR: Dasar Danau Semayang yang biasanya terendam air kini berubah menjadi hamparan lahan kering akibat kemarau panjang. Kondisi ini dimanfaatkan warga Desa Semayang, Kecamatan Kenohan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), untuk kembali menanam padi di kawasan yang selama bertahun-tahun hanya menjadi perairan.

Di lahan yang sebelumnya terendam air tersebut, sejumlah warga mulai menanam padi. Aktivitas ini bukan sekadar memanfaatkan kondisi alam, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat yang telah dilakukan secara turun-temurun ketika kemarau panjang melanda.

Salah seorang warga, Rusmi, mengaku sudah sekitar satu minggu mulai menanam padi di kawasan yang mengering tersebut.

Penanaman Padi Oleh Warga Desa Semayang

“Sudah nanam sekitar satu mingguan,” ujarnya, Sabtu (22/8/2026).

Menurutnya, masyarakat memang terbiasa memanfaatkan kawasan Danau Semayang sebagai lahan pertanian ketika kemarau berlangsung cukup panjang. Namun, kondisi seperti ini tidak terjadi setiap tahun.

“Biasanya lima tahun sekali, kalau kemarau panjang orang mulai nanam padi,” katanya.

Rusmi menyebut, terakhir kali masyarakat memanfaatkan kawasan danau untuk menanam padi dalam kondisi serupa terjadi sekitar 2015. Setelah itu, warga tidak lagi mendapatkan kesempatan untuk bercocok tanam di dasar danau karena kondisi air tidak surut sejauh saat ini.

Cerita mengenai tradisi tersebut juga disampaikan warga lainnya, yaitu Imran. Ia mengatakan, kebiasaan menanam padi di kawasan yang oleh masyarakat lokal disebut Kenohan itu bahkan sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu.

Imran mengingat, aktivitas pertanian di kawasan tersebut mulai dilakukan masyarakat sejak sekitar 1982.

“Mulai tahun 1982 orang mulai nanam padi di Kenohan, pas kemarau panjang selama delapan bulan,” ungkapnya.

Tradisi itu kembali berlangsung pada 1997. Menurut Imran, saat itu hasil pertanian warga cukup melimpah hingga digelar panen raya sebanyak dua kali di kawasan Kenohan.

Bahkan, kegiatan panen raya tersebut sempat dihadiri Bupati Kutai Kartanegara kala itu, Saukani.

“Waktu tahun 1997 pernah juga sampai panen raya dua kali di Kenohan. Sampai sempat ada acara panen raya oleh Bupati Saukani dulu di Kenohan,” tuturnya.

Kenangan serupa juga terjadi sekitar 2007. Imran menyebut hasil panen masyarakat kala itu cukup besar. Pengukuran hasil panen bahkan masih menggunakan satuan tradisional berupa kaleng susu.

“Kalau tidak salah tahun 2007, ada yang sekali panen sampai seribu kaleng susu padi yang dipanen. Dulu orang hitung kaleng, bukan ton,” jelasnya.

Bagi masyarakat Desa Semayang, surutnya Danau Semayang bukan hanya menjadi tanda panjangnya musim kemarau. Kondisi tersebut sekaligus membuka kembali lahan yang selama bertahun-tahun berada di bawah air untuk dimanfaatkan sebagai sumber pangan.

Namun, kesempatan bercocok tanam di dasar danau sangat bergantung pada kondisi alam. Warga hanya bisa menanam ketika kemarau berlangsung cukup lama dan permukaan air turun secara signifikan.

Kini, munculnya kembali hamparan lahan di tengah Danau Semayang seolah menghidupkan kembali cerita lama masyarakat Kenohan. Tradisi yang pernah menghasilkan panen besar itu kembali dilakukan generasi sekarang, di tengah kemarau panjang yang membuat air danau menyusut. (*van)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *