Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
KUTAI KARTANEGARA

Sungai Belayan Surut, Ikan Berkumpul dan Hasil Tangkapan Warga Meningkat

249
×

Sungai Belayan Surut, Ikan Berkumpul dan Hasil Tangkapan Warga Meningkat

Share this article
Kondisi Sungai Belayan di Kecamatan Kembang Janggut. (Istimewa)
Kondisi Sungai Belayan di Kecamatan Kembang Janggut. (Istimewa)
Example 468x60

KUKAR: Surutnya permukaan Sungai Belayan di Kecamatan Kembang Janggut, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), tidak hanya berdampak terhadap aktivitas transportasi, tetapi justru membuat sebagian warga mendapatkan hasil tangkapan ikan lebih banyak.

Camat Kembang Janggut, Suhartono, mengatakan kondisi sungai yang surut membuat ikan lebih mudah ditangkap.

“Kalau pagi, semakin banyak orang mencari ikan di Sungai Belayan, memasang jaring dan sebagainya. Hasil tangkapan nelayan yang kami lihat juga lebih banyak daripada biasanya,” ujarnya, Jumat (21/8/2026).

Menurutnya, jika biasanya warga hanya mendapatkan sekitar 1 hingga 2 kilogram ikan, kini hasil tangkapan dapat mencapai 5 kilogram. Bahkan, ada yang memperoleh 8 hingga 10 kilogram dalam sekali mencari ikan.

“Artinya ada kenaikan yang bisa sampai 100 persen dari biasanya,” ungkapnya.

Suhartono menjelaskan, sebagian besar masyarakat Kembang Janggut saat ini menggantungkan mata pencaharian dari perkebunan kelapa sawit. Sehingga, warga yang mencari ikan ketika Sungai Belayan surut lebih banyak merupakan nelayan dadakan.

“Kalau masyarakat secara umum tidak ada yang berprofesi sebagai nelayan murni. Jadi nelayan-nelayan dadakan dengan situasi sungai yang sedang kering ini,” jelasnya.

Meski demikian, kondisi surutnya Sungai Belayan justru memberikan dampak berbeda bagi perusahaan pertambangan.

“Yang terasa terdampak dari surutnya Sungai Belayan ini memang perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan. Karena mereka membawa hasil pertambangannya melalui Sungai Belayan,” katanya.

Namun, dampak terhadap pemenuhan kebutuhan masyarakat tidak terlalu besar karena akses jalan darat saat ini sudah jauh lebih baik. Menurutnya, kondisi tersebut berbeda dibandingkan sekitar 10 hingga 15 tahun lalu ketika sebagian besar mobilisasi masih mengandalkan jalur sungai.

Di tengah meningkatnya aktivitas warga mencari ikan, Suhartono mengingatkan masyarakat agar tetap berhati-hati terhadap potensi kemunculan buaya di Sungai Belayan.

Ia mengatakan keberadaan buaya secara umum memang masih ada di kawasan tersebut. Ketika kondisi sungai surut, buaya diperkirakan lebih banyak berada di sungai-sungai kecil atau kawasan yang jauh dari permukiman.

“Intinya untuk warga masyarakat, setiap sore tetap hati-hati dan waspada. Perhatikan anak-anak ataupun orang di sekitarnya. Karena keberadaan buaya memang ada,” tegasnya.

Sementara itu, untuk kebutuhan air bersih, Suhartono memastikan masyarakat masih dapat memenuhi kebutuhan dari sumber air yang tersedia.

Bahkan, kondisi air Sungai Belayan saat ini dinilai lebih jernih dibandingkan biasanya.

“Kalau air dalam, biasanya membawa material-material, seperti kotoran mungkin dari tambang dan lainnya. Kalau sekarang aktivitas sungai, termasuk kapal-kapal, juga berkurang,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kukar, Muslik, mengatakan kondisi kemarau dan minimnya air juga berdampak terhadap pembudidaya ikan, terutama mereka yang menggunakan kolam dan keramba.

Untuk pembudidaya di kolam, sejumlah kegiatan pembenihan terpaksa dihentikan sementara karena ketersediaan air sangat terbatas.

“Untuk para pembudidaya ikan, memang ada beberapa kegiatan, terutama pembenihan di kolam, yang untuk sementara istirahat karena kondisi air yang minim atau kering. Otomatis mereka tidak bisa beraktivitas karena airnya tidak ada,” katanya.

Di sisi lain, kondisi kemarau tidak sepenuhnya membuat nelayan tangkap kehilangan penghasilan.

“Untuk para nelayan juga ada beberapa aktivitas yang terbatas karena posisi air di Danau Semayang dan Melintang sangat surut. Tetapi produksinya justru cukup meningkat karena ikan banyak terkumpul,” ujarnya.

Namun, meningkatnya hasil tangkapan membawa persoalan baru. Ketika pasokan ikan melimpah, harga jual di tingkat nelayan justru cenderung menurun.

“Kemarau ini membuat ikan berkumpul sehingga lebih mudah ditangkap. Permasalahannya, ketika ikan banyak, harga justru menurun. Ini juga menjadi persoalan saat ini,” jelasnya.

Muslik juga menyebut kondisi nelayan di wilayah utara dan selatan Kukar berbeda. Nelayan dari Samboja dan Muara Jawa, misalnya, harus mencari ikan hingga Muara Badak dan Marangkayu karena kondisi perairan di wilayah mereka yang bergelombang.

Jarak yang lebih jauh tersebut membuat biaya operasional, khususnya bahan bakar minyak (BBM), ikut meningkat.

“Makanya upaya kita bagaimana agar mereka bisa mengakses BBM, terutama BBM subsidi. Itu yang saat ini kita gencarkan dan kita upayakan untuk para nelayan,” katanya.

Ia berharap kondisi cuaca ekstrem tidak berlangsung lama sehingga aktivitas nelayan dan pembudidaya ikan dapat kembali normal.

“Kita berharap harga tetap stabil. Pada dasarnya jumlah produksi tidak begitu signifikan berkurang atau bertambah, karena di satu sisi ada yang berkurang dan di sisi lain ada yang bertambah,” pungkasnya.

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *