Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
KUTAI KARTANEGARA

Musim Kemarau, Nelayan Kukar Panen Ikan Melimpah hingga Harga Anjlok

239
×

Musim Kemarau, Nelayan Kukar Panen Ikan Melimpah hingga Harga Anjlok

Share this article
Kondisi Air Surut di Wilayah Hulu Kukar (Istimewa)
Kondisi Air Surut di Wilayah Hulu Kukar (Istimewa)
Example 468x60

KUKAR: Musim kemarau yang menyebabkan debit air sungai dan danau di sejumlah wilayah hulu Kutai Kartanegara (Kukar) menyusut, ternyata membawa berkah bagi sebagian masyarakat. Kondisi tersebut menjadi momentum bagi warga untuk menangkap ikan secara massal.

Kepala Desa Kendang Murung, Junaidy, mengatakan fenomena ikan mati saat air surut merupakan hal yang biasa terjadi, khususnya di kawasan danau. Ketika air semakin dangkal, ikan menjadi sulit berpindah dan sebagian tidak mampu bertahan akibat suhu air yang meningkat.

“Kalau air surut, ikan itu kepanasan. Sebagian ada yang mati. Kalau danau memang biasa begitu. Saat air benar-benar surut dan kering, ikan yang terjebak bisa mati,” ujar Junaidy Jumat (14/8/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut justru dimanfaatkan masyarakat untuk menangkap ikan dengan menggunakan jala maupun alat tangkap lainnya. Salah satu lokasi yang kini ramai didatangi warga adalah kawasan Muara Kedang, yang menjadi tempat masyarakat berburu ikan baung.

“Sekarang ini di Muara Kedang ramai orang memancing baung. Bisa dibilang panen betul. Masyarakat memang menunggu momentum seperti ini,” katanya.

Selain baung, berbagai jenis ikan air tawar juga banyak diperoleh masyarakat, mulai dari biawan, gabus, toman hingga jenis ikan sungai lainnya.

Namun, melimpahnya hasil tangkapan justru membuat harga ikan di tingkat masyarakat mengalami penurunan cukup drastis.

Junaidy menyebut harga ikan baung yang sebelumnya dapat mencapai sekitar Rp60.000 per kilogram, kini turun menjadi sekitar Rp30.000 per kilogram.

“Karena hasilnya melimpah, harga ikan turun drastis. Ikan baung yang biasanya Rp60.000, sekarang sekitar Rp30.000,” ungkapnya.

Kondisi serupa juga dirasakan pembudidaya ikan di Kecamatan Muara Muntai. Kepala Desa Muara Muntai Ulu, Husain, mengatakan harga jual ikan sangat dipengaruhi oleh jenis, ukuran, serta jumlah hasil panen.

Untuk komoditas tertentu, seperti toman, harga jual berada di kisaran Rp25.000 per kilogram. Sementara beberapa jenis ikan lainnya dapat mencapai sekitar Rp45.000 per kilogram.

Husain menjelaskan, tidak semua jenis ikan dapat dipanen dalam waktu singkat. Ikan jelawat, misalnya, membutuhkan waktu hingga sekitar dua tahun sebelum dapat dipanen dan dijual dengan ukuran yang memenuhi permintaan pasar.

“Kalau jelawat itu lama, sekitar dua tahun baru bisa dipanen. Itu pun dipilih lagi ukurannya. Biasanya pembeli baru mengambil kalau jumlahnya sudah memenuhi,” jelasnya.

Selain persoalan harga jual, pembudidaya juga menghadapi kenaikan biaya pakan. Menurut Husain, harga pakan ikan yang sebelumnya sekitar Rp560.000 per karung berukuran 50 kilogram, kini telah meningkat menjadi sekitar Rp590.000.

Hasil budidaya ikan masyarakat pun dipasarkan melalui berbagai jalur. Sebagian dijual kepada pengepul, kemudian dikirim ke sejumlah daerah, termasuk Pulau Jawa.

“Kadang dijual ke pengepul, kemudian ada yang dikirim ke daerah lain, termasuk Jawa,” katanya.

Di sisi lain, Husain menyebut keberadaan keramba yang cukup banyak belum sepenuhnya berbanding lurus dengan hasil produksi. Sebagian keramba milik masyarakat bahkan masih kosong karena keterbatasan ikan yang dapat dibudidayakan.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kukar, Muslik, mengatakan wilayah hulu seperti Muara Muntai dan Muara Wis memang dikenal sebagai kawasan dengan potensi perikanan sungai yang cukup melimpah.

Menurutnya, populasi ikan yang relatif banyak membuat masyarakat masih dapat memperoleh hasil tangkapan melalui berbagai metode, mulai dari menjaring hingga memasang perangkap ikan.

Muslik menambahkan, pada musim-musim tertentu ketika hasil tangkapan meningkat, masyarakat tidak hanya menjual ikan dalam kondisi segar, tetapi juga mengolahnya menjadi berbagai produk olahan.

“Wilayah hulu seperti Muara Muntai dan Muara Wis memang memiliki hasil ikan sungai yang melimpah. Saat musim ikan, hasil tangkapan masyarakat juga meningkat dan sebagian kemudian diolah menjadi produk makanan berbahan dasar ikan,” pungkasnya. (and)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *