Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
NASIONAL

Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air 30 Juli 2026

235
×

Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air 30 Juli 2026

Share this article
Teks Foto : Akibat kekeringan BPBD Kabupaten Lamongan terus berupaya mendistribusikan kebutuhan air bersih masyarakat di Desa Kedungkumpul, Kecamatan Sarirejo, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur, Selasa (28/7). (Dok: BPBD Kabupaten Lamongan)
Teks Foto : Akibat kekeringan BPBD Kabupaten Lamongan terus berupaya mendistribusikan kebutuhan air bersih masyarakat di Desa Kedungkumpul, Kecamatan Sarirejo, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur, Selasa (28/7). (Dok: BPBD Kabupaten Lamongan)
Example 468x60

JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum perkembangan situasi dan penanganan bencana di sejumlah wilayah Indonesia pada periode Selasa (28/7), pukul 07.00 WIB, hingga Rabu (29/7), pukul 07.00 WIB. Berdasarkan data yang dihimpun, kekeringan masih mendominasi kejadian bencana di berbagai wilayah seiring berlangsungnya musim kemarau. Di sisi lain, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian nasional.

Kejadian pertama, penanganan karhutla di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Provinsi Sulawesi Utara, telah berhasil diselesaikan. Berdasarkan laporan Rabu (29/7), api yang sebelumnya membakar lahan di Desa Binuanga, Kecamatan Bolangitang Timur, kini telah padam.

Kebakaran terjadi pada Selasa (28/7) sekitar pukul 13.00 WITA di lahan kering yang dipenuhi dedaunan dan rumput kering. Kondisi cuaca panas disertai angin menyebabkan api dengan cepat merambat hingga berdampak pada sekitar 5 hektare lahan. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.

Dalam upaya penanganan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bolaang Mongondow Utara bersama Dinas Pemadam Kebakaran, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan masyarakat melakukan pemadaman, pendinginan, serta pemantauan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru.

Sementara itu, penanganan karhutla di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, juga telah selesai. Berdasarkan laporan Rabu (29/7), api yang membakar lahan di Kelurahan Pacarejo, Kapanewon Semanu, telah berhasil dipadamkan.

Kebakaran terjadi pada Minggu (26/7) pukul 18.39 WIB, saat api diketahui membakar lahan jati di Padukuhan Kuwon Kidul. Warga segera melaporkan kejadian tersebut kepada petugas pemadam kebakaran. Namun, lokasi kebakaran yang berada di kawasan perbukitan berada di luar jangkauan armada pemadam sehingga penanganan awal dilakukan melalui pemantauan terhadap area kebakaran. Peristiwa ini mengakibatkan sekitar 3 hektare lahan terbakar tanpa menimbulkan korban jiwa.

Selama penanganan, BPBD Kabupaten Gunungkidul berkoordinasi dengan instansi terkait serta melakukan asesmen dan kaji cepat untuk mengetahui dampak kejadian. Upaya tersebut didukung oleh Damkar Kabupaten Gunungkidul dan masyarakat setempat.

Di wilayah lain, penanganan dampak kekeringan di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, terus dilakukan melalui penyaluran bantuan air bersih kepada warga terdampak. Berdasarkan laporan Rabu (29/7), BPBD Kabupaten Lamongan telah melaksanakan distribusi air bersih di Desa Kedungkumpul, Kecamatan Sarirejo, dengan distribusi ke lima titik/RT di Dusun Walangkopo. Seluruh kegiatan penyaluran bantuan telah terlaksana dengan baik berkat dukungan pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat.

Kekeringan dipicu oleh cuaca panas akibat musim kemarau dan berdampak pada sekitar 150 kepala keluarga atau 600 jiwa di Desa Kedungkumpul. Tidak terdapat kerugian materiil yang dilaporkan dalam kejadian ini.

BPBD Kabupaten Lamongan terus berupaya memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat melalui pendistribusian bantuan ke wilayah terdampak. Kegiatan tersebut melibatkan BPBD Kabupaten Lamongan bersama Pemerintah Kabupaten Lamongan, Dinas PMD, Dinas Kominfo, Bagian Humas, Bagian Prokopim, Muspika Kecamatan Sarirejo, perangkat Desa Kedungkumpul, dan masyarakat setempat. Kabupaten Lamongan saat ini masih berstatus Siaga Darurat Bencana Kekeringan hingga 31 Oktober 2026, sementara Pemerintah Provinsi Jawa Timur menetapkan status Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan hingga 6 Oktober 2026.

Selain itu, perkembangan penanganan karhutla juga dilaporkan dari Kota Sorong, Provinsi Papua Barat Daya. Berdasarkan laporan BPBD Kota Sorong hingga Rabu (29/7) pukul 08.48 WIB, seluruh titik kebakaran telah berhasil dipadamkan. Meski demikian, dampak kebakaran mengakibatkan sekitar 24 hektare lahan terbakar dan satu tiang listrik mengalami kerusakan yang menyebabkan sebagian aliran listrik ke rumah warga di Kelurahan Matalamagi, Distrik Sorong Utara, sempat terputus.

Karhutla pertama kali terdeteksi pada Selasa (21/7) sekitar pukul 12.30 WIT di wilayah Gunung Kali Ampat, meliputi Distrik Malaimsimsa dan Distrik Sorong Utara. Kobaran api kemudian membesar pada sore hari akibat kondisi kemarau dan angin kencang. Kebakaran kembali terjadi pada Kamis (23/7) di kawasan hutan Gunung Woroth, Kelurahan Kakublik, Distrik Sorong Kota.

Kejadian ini berdampak pada lima distrik dan delapan kelurahan, yaitu Distrik Malaimsimsa, Sorong Utara, Sorong Kota, Sorong Timur, dan Maladum Mes. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Selama penanganan, BPBD Kota Sorong melakukan pemantauan di titik-titik kebakaran serta pendataan dampak kejadian. Upaya pemadaman melibatkan BPBD Kota Sorong, Damkar TNI AD, Damkar Kota Sorong, Polresta Sorong, dan pemerintah kelurahan. Proses penanganan sempat menghadapi kendala berupa sulitnya akses menuju beberapa titik kebakaran serta keterbatasan peralatan pemadaman. Saat ini kondisi di lokasi telah terkendali dan petugas terus melakukan pemantauan untuk mengantisipasi potensi kemunculan titik api baru.

BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap ancaman potensi bahaya hidrometeorologi. Terkait dengan bahaya karhutla, BNPB mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, serta segera melaporkan kepada aparat setempat apabila menemukan titik api agar dapat ditangani sedini mungkin.

Sedangkan menghadapi kekeringan, masyarakat diimbau untuk menggunakan air secara bijak, menghemat konsumsi air bersih, serta mengikuti arahan pemerintah daerah apabila terjadi gangguan ketersediaan air selama musim kemarau.

 

(Sumber: bnpb.go.id)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *