Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
NASIONAL

Perjuangan Evi di Bursa Kerja: Map di Tangan, Tongkat di Kaki

234
×

Perjuangan Evi di Bursa Kerja: Map di Tangan, Tongkat di Kaki

Share this article
Evi ketika mendatangi Job Fair di Jakarta Timur di Gor Ciracas, Selasa (28/7/2026), ditemani sang anak. (Dok: Kompas.com )
Evi ketika mendatangi Job Fair di Jakarta Timur di Gor Ciracas, Selasa (28/7/2026), ditemani sang anak. (Dok: Kompas.com )
Example 468x60

JAKARTA – Di tengah ribuan pencari kerja yang memadati GOR Ciracas, Jakarta Timur, Selasa (28/7/2026), langkah Apni Nelya (37) tampak berbeda. Perempuan yang akrab disapa Evi itu berjalan perlahan menyusuri deretan stan perusahaan. Tangan kirinya menggenggam map berisi dokumen lamaran kerja, sementara tangan kanannya bertumpu pada sebuah tongkat kayu yang menopang setiap langkahnya.

Di sampingnya, seorang anak laki-laki berusia enam tahun berjalan setia mengikuti. Di tengah riuh para pencari kerja yang berlomba mendapatkan kesempatan, Evi datang membawa harapan yang jauh lebih sederhana.Ia ingin kembali bekerja agar anaknya tetap bisa bersekolah dan memiliki tempat tinggal yang layak.

Evi bukan orang baru di dunia kerja. Pada 2019, ia pernah bekerja sebagai helper di sebuah perusahaan garmen di Depok, Jawa Barat. Namun, dua tahun kemudian hidupnya berubah drastis. Penyakit autoimun yang dideritanya membuat kondisi fisiknya terus menurun hingga memaksanya berhenti bekerja dan menjalani pengobatan secara rutin.

Cobaan itu semakin berat ketika dua tahun lalu ia berpisah dengan suaminya. Sejak saat itu, Evi harus membesarkan anaknya seorang diri tanpa penghasilan tetap.

“Pemasukan hari-hari dari hamba Allah, terus ada yang dari yayasan, ada dari tetangga. Ya ala kadarnya aja sih. Kalau itu kan saya udah alhamdulillah ya, yang penting kita enggak sampai kelaparan banget gitu,” kata Evi kepada Kompas.com.

Bantuan dari orang-orang di sekitarnya membuat Evi dan anaknya masih bisa bertahan hidup. Namun, ia sadar belas kasih tidak bisa menjadi sandaran selamanya.

Empat bulan terakhir menjadi masa paling berat bagi Evi. Ia dan putranya tidak lagi memiliki tempat tinggal tetap. Mereka berpindah-pindah dan menumpang tidur di masjid sambil mengandalkan uluran tangan para dermawan. Yang terus memenuhi pikirannya bukan hanya kebutuhan makan sehari-hari.

(Sumber: kompas.com)

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *